Rumah Subak: Rumah Tropis di Ubud yang Menyatukan Arsitektur Modern dan Kearifan Lokal
Baca dalam 60 detik
- Arsitek Livina Cali merancang Rumah Subak di Tampaksiring, Bali, dengan mengadaptasi bentuk paviliun tradisional wantilan dan material lokal seperti kayu bengkirai serta ulin.
- Rumah ini dinamai dari sistem irigasi subak yang diakui UNESCO, dan dirancang untuk menyatu dengan lanskap sawah serta hutan di sekitarnya.
- Proyek yang dimulai saat pandemi ini mengajarkan Livina bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari cerita arsitektur yang autentik.

Arsitek Livina Cali, yang kini menetap di Singapura, berhasil mewujudkan impian masa kecilnya dengan membangun rumah pribadi di kawasan Tampaksiring, Bali. Rumah yang diberi nama Rumah Subak ini tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga perwujudan dari filosofi arsitektur tropis yang menghormati alam dan tradisi lokal.
Lahir di Surabaya dan sering mengunjungi Bali sejak kecil, Livina memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Pulau Dewata. Kenangan liburan keluarga di Istana Tampaksiring puluhan tahun lalu kini berbuah manis. Bersama suaminya, ia membangun rumah yang dirancang sebagai tempat tinggal masa kini sekaligus persiapan untuk masa pensiun.
Rumah Subak mengambil nama dari sistem irigasi tradisional Bali yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya. Rumah ini berada tepat di kawasan subak yang masih aktif, berbatasan langsung dengan sawah dan jurang berhutan. Filosofi Tri Hita Karanaโyang menekankan keseimbangan antara alam, manusia, dan spiritualโmenjadi dasar perancangannya.
Livina mendesain rumah ini sebagai serangkaian ruang berlapis yang mengikuti kontur tanah. Paviliun utama yang beratap limasan bertingkat berfungsi sebagai ruang tamu, ruang makan, dan dapur terbuka. Di bawahnya, terdapat volume bata yang menaungi kamar tidur, sementara perpustakaan berada di level terendah. Sayap kayu yang memanjang berisi gym, ruang pijat, dan sauna.
Pemilihan material menjadi kunci untuk menciptakan harmoni dengan lingkungan. Kayu bengkirai digunakan untuk struktur paviliun dan teras, sementara ulin yang lebih keras diaplikasikan pada sirap atap dan dek. Semua kayu difinishing dengan minyak agar warna dan serat alaminya tetap terlihat, serta menua secara elegan seiring waktu. Dinding bata yang disusun dengan pola berselang-seling antara bata datar dan miring memberikan tekstur unik yang diuji langsung oleh Livina melalui mock-up skala penuh.
Proses pembangunan berlangsung di tengah pandemi COVID-19, yang memaksa Livina dan suaminya mengawasi proyek dari Singapura. Keterbatasan jarak menyebabkan beberapa detail menyimpang dari rencana awal. Namun, Livina justru melihat hal ini sebagai pelajaran berharga. "Arsitektur pada akhirnya adalah proses kolaboratif, dan adaptasi adalah hal yang tak terhindarkan," ujarnya. "Saya melihat ketidaksempurnaan itu sebagai bagian dari cerita rumah ini, bukan sebagai cacat yang harus diperbaiki."
Rumah Subak menawarkan pengalaman hidup yang lambat dan penuh kesadaran. Di pagi hari, sinar matahari awal mengubah kayu menjadi keemasan, sementara kabut tipis menyelimuti kanopi hutan. Suara gemericik air dari taman air menyambut setiap kedatangan. Livina mengaku menjadi lebih peka terhadap perubahan cuaca, cahaya, dan waktu saat berada di rumah ini. "Ini adalah saat-saat ketika arsitektur benar-benar hidup," katanya.
Ke depannya, Rumah Subak tidak hanya menjadi tempat tinggal pribadi, tetapi juga contoh bagaimana arsitektur modern dapat berpadu dengan kearifan lokal tanpa kehilangan fungsinya. Pertanyaannya, mampukah pendekatan serupa diadopsi secara lebih luas dalam pengembangan properti di Indonesia, khususnya di kawasan yang kaya akan tradisi dan alam?



