PMX.AI: Avatar AI Anwar Ibrahim untuk Berdialog dengan Rakyat Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meluncurkan avatar AI bernama PMX.AI yang dapat diajak bicara melalui WhatsApp, meniru penampilan dan suaranya.
- Avatar ini dibangun oleh Zetrix AI menggunakan model pengetahuan pribadi (PKM) yang dilatih dari tulisan, pidato, dan kebijakan Anwar, serta dapat digunakan politisi lain.
- Langkah ini menandai penggunaan AI dalam komunikasi politik di Asia Tenggara, berpotensi mengubah cara pemimpin berinteraksi dengan konstituen dan mengelola umpan balik publik.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim resmi memperkenalkan PMX.AI, sebuah avatar kecerdasan buatan yang dirancang untuk berinteraksi langsung dengan warga negara melalui platform WhatsApp. Langkah ini dinilai sebagai terobosan dalam komunikasi politik di Asia Tenggara, memanfaatkan teknologi AI untuk menjangkau pemilih secara lebih personal dan masif.
Dalam unggahan di media sosial pada Sabtu (18 Juli) malam, Anwar mengajak masyarakat Malaysia untuk mengobrol dengan avatar tersebut guna “memulai percakapan segar dan wacana publik yang bermakna bagi bangsa dan rakyatnya.” Video promosi yang menyertainya menampilkan Anwar dalam berbagai karakter superhero—dari astronot, kapten Amerika, hingga Spiderman—yang menggambarkan avatar sebagai “evolusi komunikasi nasional.”
PMX.AI, singkatan dari Perdana Menteri ke-10 Malaysia, dikembangkan oleh Zetrix AI, perusahaan infrastruktur digital Malaysia. Avatar ini dilatih menggunakan tulisan, pidato, dan catatan kebijakan Anwar, sehingga mampu meniru gaya bicara dan penampilannya. Menurut direktur pengelola Zetrix AI, TS Wong, avatar ini dapat mendengarkan keluhan warga, mengumpulkan sentimen publik, dan bahkan membantu mengurus layanan pemerintah seperti pendaftaran program pelatihan kerja atau perpanjangan SIM.
Wong menjelaskan bahwa teknologi di balik PMX.AI adalah Personal Knowledge Model (PKM), yang memungkinkan pengguna melatih agen AI dengan pengetahuan, preferensi, dan sudut pandang mereka sendiri. “Avatar Anda seakurat data yang Anda bagikan dengan PKM Anda,” ujarnya. PKM juga berfungsi sebagai alat verifikasi dan pengecekan fakta, memastikan respons konsisten dengan preferensi pengguna dan mengurangi risiko halusinasi AI.
Anwar bukanlah politisi pertama yang menggunakan AI. Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung telah menggunakan avatar AI dalam kampanye pemilu 2022, sementara Perdana Menteri India Narendra Modi memanfaatkan AI untuk berpidato dalam berbagai bahasa daerah. Namun, Wong menekankan bahwa produk Zetrix AI lebih canggih karena mampu melakukan negosiasi, menandatangani dokumen, dan memverifikasi identitas secara legal, dengan semua tindakan tercatat di blockchain yang tidak dapat diubah.
Meski demikian, penggunaan AI dalam politik menimbulkan kekhawatiran akan penyalahgunaan dan keamanan data. Wong mengakui risiko “agentic AI yang tidak terkendali,” tetapi menyatakan bahwa PKM mengatur semua respons dan tindakan, serta data pribadi pengguna tidak dapat diakses oleh pihak lain. “Tidak ada ruang untuk tindakan nakal karena setiap langkah dilindungi verifikasi kriptografi yang kuat dan terkunci di blockchain,” tegasnya.
Bagi Indonesia, langkah Malaysia ini menjadi preseden menarik. Dengan jumlah pengguna WhatsApp yang besar, potensi adopsi teknologi serupa oleh politisi Indonesia cukup terbuka. Namun, regulasi perlindungan data pribadi dan kesiapan infrastruktur digital menjadi faktor kunci yang perlu dipertimbangkan. Apakah avatar AI akan menjadi alat kampanye masa depan yang efektif atau justru membuka celah baru dalam manipulasi opini publik?



