Tommy Fleetwood Berharap Dukungan Publik Bawa Gelar The Open Setelah 32 Tahun Penantian Inggris
Baca dalam 60 detik
- Pegolf asal Southport, Tommy Fleetwood, berada di posisi T9 dengan enam pukulan di belakang pemimpin Sam Burns menjelang putaran final The Open.
- Dukungan penuh dari penggemar tuan rumah di Royal Birkdale menjadi modal psikologis yang diandalkan Fleetwood untuk merebut Claret Jug perdana.
- Jika berhasil, Fleetwood akan menjadi pemain Inggris pertama yang menjuarai The Open sejak Nick Faldo pada 1992, mengakhiri puasa gelar selama tiga dekade.

Tommy Fleetwood akan mengandalkan gelombang dukungan ribuan penggemar di Royal Birkdale, Minggu (19/7), untuk merebut gelar British Open sekaligus mengakhiri puasa panjang Inggris di turnamen golf tertua di dunia yang terakhir kali dimenangkan pada 1992 oleh Nick Faldo.
Pegolf berusia 35 tahun yang lahir di Southport—kota yang sama dengan lokasi Royal Birkdale—menikmati sorak-sorai paling meriah pada putaran ketiga, Sabtu (18/7), usai mencatat skor 69 (2-under). Hasil itu menempatkannya di posisi T9 dengan total 7-under, tertinggal enam pukulan dari pemimpin klasemen Sam Burns asal Amerika Serikat.
Fleetwood, yang pernah menjadi runner-up The Open 2019 dan US Open 2018, sadar bahwa keajaiban diperlukan pada hari terakhir untuk mengangkat Claret Jug pertamanya. Namun, ia percaya energi dari para penonton yang memadati bukit pasir Royal Birkdale bisa menjadi pembeda. "Seperti berjalan menuju setiap green, itu adalah sambutan paling luar biasa yang bisa Anda bayangkan," ujar anggota tim Ryder Cup itu kepada wartawan. "Saya tetap berusaha fokus pada permainan, tapi ribuan orang ikut dalam perjalanan saya."
Kedekatan Fleetwood dengan lapangan Royal Birkdale sudah terbangun sejak kecil. Ia kerap menyelinap masuk untuk bermain sembunyi-sembunyi, dan kini memiliki akademi di Formby Hall Golf Club yang tak jauh dari lokasi. Pada putaran ketiga, ia menunjukkan penguasaan links course yang membuat penggemar berteriak histeris: birdie di hole kelima, birdie panjang di hole ketujuh, dan pukilan kedua yang memukau di hole ke-11 untuk mendekat hanya satu pukulan dari pimpinan sementara. Namun, dua pukulan hilang di hole 15 dan 18 menghentikan lajunya.
Rekan setimnya, Jon Rahm dari Spanyol yang juga berada dalam grup Fleetwood, memuji dukungan tanpa syarat yang diterima Fleetwood. "Bagian terbaiknya adalah mereka bersorak untuknya, tapi tetap menghormati pemain lain. Itu yang membuatnya menyenangkan bagi kami semua," kata Rahm yang mencatat skor 70 (par) dan tertinggal enam pukulan. "Jika ia bisa memulai dengan dua atau tiga birdie di lima hole awal, ia bisa menaiki gelombang itu, dan semua orang di lapangan akan tahu di mana Tommy berada."
Bagi Indonesia, momen ini menjadi pengingat betapa besarnya peran dukungan publik dalam olahraga—fenomena yang juga terlihat di ajang bulu tangkis atau sepak bola dalam negeri. Kehadiran penonton yang antusias mampu mengangkat performa atlet tuan rumah, sekaligus menjadi tekanan bagi lawan. Di golf, yang notabene lebih individual, efek "home crowd" seperti yang dialami Fleetwood bisa menjadi faktor penentu, terutama di putaran final yang penuh tekanan.
Jika Fleetwood mampu memanfaatkan momentum awal dan memangkas jarak, bukan tidak mungkin ia akan menjadi pahlawan baru golf Inggris. Namun, dengan persaingan ketat dari Burns dan pemain lain seperti Jon Rahm serta Brian Harman, jalan menuju Claret Jug masih terjal. Pertanyaannya, akankah "Tommy Lad" mampu mengubah dukungan menjadi trofi, atau justru tenggelam dalam ekspektasi yang membebaninya?



