Sam Burns: Dari Ruang Bersalin ke Puncak The Open, Istri Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Sam Burns memimpin The Open dengan keunggulan dua pukulan setelah membukukan skor 62 dan 65, mengubah start buruk menjadi peluang gelar mayor pertama.
- Keputusan istrinya, Caroline, yang mendorongnya tetap berangkat meski baru melahirkan, menjadi titik balik mental pegolf Amerika itu.
- Jika Burns menang, ia akan menjadi pegolf AS pertama sejak 2019 yang merebut Claret Jug, sekaligus membuktikan dukungan keluarga sebagai faktor krusial.

Sam Burns tidak pernah membayangkan akan berada di posisi puncak klasemen The Open ke-154 saat istrinya, Caroline, dijadwalkan melahirkan hanya dua hari sebelum turnamen dimulai. Namun, anak perempuan mereka, Belle, memilih datang lebih awal, dan Burns pun terbang ke Royal Birkdale. Kini, dengan keunggulan dua pukulan menjelang putaran final, ia berpeluang meraih gelar mayor pertamanya.
Pegolf berusia 29 tahun asal Louisiana itu memulai turnamen dengan skor 73 (+3) yang mengecewakan. Namun, ia bangkit dengan catatan fenomenal: 62 pada Jumatโmenyamai rekor skor terendah di turnamen mayor priaโdan 65 pada Sabtu. Transformasi ini, menurut Burns, tidak lepas dari campur tangan sang istri.
"Turnamen ini benar-benar jauh dari radar dan ekspektasi saya untuk bermain," ujar Burns, yang tahun ini menjadi runner-up di U.S. Open. "Tanggal perkiraan lahir Caroline adalah Selasa pekan ini. Dengan anak pertama, ia terlambat empat hari. Saya pikir tidak mungkin, tapi Belle punya rencana lain."
Burns mengaku sempat ragu meninggalkan keluarga, tetapi Caroline justru mendorongnya. "Saya tidak banyak berpikir. Caroline bertanya, 'Apa rencanamu untuk pekan depan?' Saya jawab tidak tahu. Dia yang akhirnya mendorong saya pergi dan bermain. Katanya, 'Urusan di rumah biar saya urus. Pergi dan berikan yang terbaik.'"
Setelah tiga bogey beruntun di hari pertama, Burns merasa frustrasi. Namun, pesan teks dari Caroline kembali mengubah suasana hatinya. "Dia bilang, 'Kau di sana, saya baik-baik saja di rumah. Kau harus fokus di tempat kakimu berpijak.' Itu yang perlu saya dengar, meski awalnya tidak ingin mendengarnya. Itu seperti tendangan di pantat," kenangnya.
Burns kini memimpin dengan total 8-under par, unggul dua pukulan dari para pesaing. Ia mengaku belum melihat papan skor dan memilih fokus pada permainannya sendiri. "Saya tidak bisa mengontrol apa yang dilakukan orang lain. Pasti ada yang akan bermain bagus besok. Saya juga harus melakukannya. Apa pun hasilnya, saya bisa menerima. Hidup terus berjalan. Saya akan pulang dan bertemu keluarga. Semoga saya membawa piala, tapi jika tidak, itu juga tidak masalah," katanya.
Kisah Burns mengingatkan pada momen-momen emosional di olahraga global, di mana dukungan keluarga sering menjadi pembeda. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi pada atlet-atlet tanah air yang harus meninggalkan keluarga demi kompetisi. Misalnya, pebulutangkis yang bertanding di luar negeri saat istri melahirkan, atau pesepakbola yang bermain di tengah tekanan domestik. Dukungan pasangan, seperti yang dialami Burns, menjadi fondasi mental yang tak ternilai.
Pertanyaan besarnya: mampukah Burns mempertahankan keunggulan di putaran final? Dengan angin kencang yang diprediksi melanda Royal Birkdale, tekanan akan semakin besar. Namun, dengan ketenangan yang dipetik dari pesan istrinya, ia mungkin memiliki senjata rahasia yang tidak dimiliki pesaingnya.



