Wales Kembali Tak Berdaya di Tangan Afrika Selatan: Kekalahan 0-43 dan Rekor 116-0 Agregat
Baca dalam 60 detik
- Wales menelan kekalahan keenam berturut-turut dari Afrika Selatan, dengan agregat dua laga terakhir mencapai 116-0 tanpa satu poin pun.
- Pelatih Steve Tandy mengakui timnya kesulitan menembus pertahanan Springboks yang solid, meski ada peningkatan dari kekalahan 73-0 sebelumnya.
- Kapten Wales Dewi Lake tetap bangga dengan perjuangan pemainnya, namun kritik tajam muncul dari publik terkait ketidakmampuan mencetak poin.

Wales kembali menuai hasil memalukan saat dibantai Afrika Selatan 43-0 dalam laga Nations Championship di Durban, Sabtu (19/7). Kekalahan ini menjadi yang kesembilan bagi pelatih Steve Tandy dari 12 pertandingan bersama Wales, sekaligus memperpanjang rekor tanpa poin melawan juara dunia itu dalam dua pertemuan terakhir dengan agregat 116-0.
Meski tidak sekritis kekalahan 73-0 di Cardiff pada November lalu, performa Wales tetap jauh dari harapan. Afrika Selatan yang tampil tanpa beberapa pemain inti tetap mampu mencetak tujuh percobaan melalui Jasper Wiese, Cobus Reinach, Jesse Kriel, Jaco Williams, Herschel Jantjies, Kurt-Lee Arendse, dan Paul de Villiers. Pertahanan Wales yang keropos membuat Springboks leluasa menguasai jalannya pertandingan.
Tandy mengakui kekecewaannya, namun tetap memberikan apresiasi atas perjuangan anak asuhnya. โSaya sangat kecewa dengan skor akhir. Tapi saya memuji tim atas usaha mereka, mereka bertahan dalam pertarungan di sebagian besar pertandingan,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa ada kebanggaan besar terhadap pemain yang bekerja keras melawan juara dunia.
Namun, kritik tajam datang dari para pengamat dan suporter. Kegagalan mencetak poin dalam dua laga beruntun melawan Afrika Selatan menjadi catatan hitam. Tandy mengakui timnya kesulitan memanfaatkan peluang. โMomen-momen yang kami dapatkan tidak cukup akurat. Entah itu knock-on atau ruang yang tidak kami manfaatkan. Kami juga kurang agresif saat mendapat tiga atau empat penalti berturut-turut,โ jelasnya.
Kapten Wales Dewi Lake justru menyuarakan nada optimistis. โBeberapa orang mungkin terkejut saya mengatakan ini melihat papan skor, tapi ada banyak peningkatan di dalamnya. Bandingkan performa ini dengan musim gugur lalu. Kami tidak senang dengan nol di papan skor, tapi kami telah tumbuh,โ katanya. Ia menegaskan bangga dengan setiap pemain yang memberikan segalanya di lapangan.
Bagi pecinta rugby di Indonesia, kekalahan beruntun Wales ini menjadi pengingat betapa dominannya Afrika Selatan di panggung internasional. Dengan persiapan menuju Piala Dunia 2027, Wales harus segera membenahi lini serang jika ingin bersaing dengan tim-tim papan atas. Pertanyaan besarnya: mampukah Tandy membalikkan keadaan sebelum turnamen besar berikutnya?



