Jim Parsons Akui Menderita saat Puncak Karier The Big Bang Theory: Saya Tidak Akan Mengulanginya
Baca dalam 60 detik
- Aktor Jim Parsons mengaku mengalami tekanan mental dan kebahagiaan palsu selama membintangi The Big Bang Theory selama 12 musim.
- Meski meraih empat Emmy dan satu Golden Globe, Parsons menilai kesuksesan itu dibayar dengan stres dan obsesi berlebihan.
- Ia kini mulai menerima bahwa peran Sheldon Cooper akan selalu melekat, namun terus berupaya membangun hubungan yang lebih sehat dengan masa lalunya.

Jim Parsons, aktor yang memerankan Sheldon Cooper dalam sitkom legendaris The Big Bang Theory, secara terbuka mengaku bahwa masa-masa puncak kariernya justru dipenuhi penderitaan batin. Dalam wawancara terbaru dengan podcast All Out with Jon Dean, Parsons yang kini berusia 53 tahun menegaskan bahwa ia tidak akan pernah bersedia mengulangi pengalaman itu, berapa pun bayarannya.
Parsons mengungkapkan bahwa di balik deretan penghargaan bergengsi—termasuk empat Primetime Emmy dan satu Golden Globe—ia merasa tertekan dan tidak bahagia. “Saya melihat ke belakang dan menyadari bahwa di banyak momen terbaik hidup saya, saya justru menderita. Saya tidak bahagia. Saya stres,” ujarnya. Ia menggambarkan tekanan untuk terus menjaga performa sebagai beban yang membuatnya kehilangan kenikmatan atas kesuksesan yang diraih.
Menurut Parsons, etos kerja yang dimilikinya sebenarnya lebih merupakan perilaku obsesif-kompulsif (OCD) daripada disiplin sehat. “Saya punya daftar hal di kepala yang harus saya selesaikan agar merasa nyaman dan yakin bisa melakukan pekerjaan dengan benar. Tapi saya rasa itu tidak benar,” katanya. Sikap ini membuatnya melewatkan banyak pengalaman hidup di luar syuting, meski ia mengakui bahwa masa sulit itu membuka pintu bagi kariernya selanjutnya.
Fenomena yang dialami Parsons bukanlah kasus langka di industri hiburan. Banyak aktor yang merasa terisolasi atau kehilangan kendali atas hidupnya saat popularitas melonjak. Di Indonesia, tekanan serupa juga dialami oleh sejumlah artis papan atas yang harus menjaga citra dan jadwal padat. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Djuwita, menilai bahwa kesuksesan seringkali datang dengan ekspektasi tinggi yang bisa memicu kecemasan dan kelelahan mental. “Para publik figur perlu memiliki sistem pendukung yang kuat dan kesadaran untuk beristirahat,” ujarnya.
Parsons juga merenungkan tentang bagaimana ketenaran mengubah persepsi dirinya. “Ini perasaan yang aneh ketika orang mengenal Anda saat Anda masuk ke sebuah ruangan, tapi Anda tidak mengenal mereka. Lebih aneh lagi ketika kebanyakan dari mereka hanya mengenal saya sebagai karakter yang sudah tidak saya mainkan lagi selama tujuh tahun,” ungkapnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pernyataannya bukanlah keluhan, melainkan bentuk kejujuran pada diri sendiri.
Kini, Parsons perlahan membangun hubungan baru dengan masa lalunya. Ia mengaku terus berusaha untuk lebih sehat secara mental dan menerima bahwa peran Sheldon Cooper akan selalu menjadi bagian dari identitasnya. “Hubungan saya dengan peran itu terus berkembang dan semakin baik setiap waktu. Saya merasa lebih sehat,” pungkasnya. Pertanyaan yang tersisa: apakah industri hiburan, baik di Hollywood maupun Indonesia, sudah cukup menyediakan ruang bagi para artis untuk menjaga kesehatan mental di tengah gemerlap popularitas?



