Air Bah di Sungai Sedim Kulim Tewaskan Tiga Orang, Termasuk Bocah 3 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Fenomena water surge di Taman Eko Rimba Sungai Sedim, Kulim, menewaskan tiga orang yang terseret arus deras.
- Korban terdiri dari dua anak-anak dan seorang perempuan dewasa, ditemukan mengambang di bagian tengah perbukitan.
- Penyebab pasti kejadian masih diselidiki, sementara tim penyelamat telah mengevakuasi jenazah korban.

Tiga orang tenggelam setelah terseret arus deras saat fenomena air bah (water surge) melanda kawasan wisata Taman Eko Rimba Sungai Sedim, Kulim, Kedah, pada Sabtu (18/7) sore. Peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan di objek wisata air yang kerap terjadi tanpa peringatan dini.
Kepala Stasiun Pemadam dan Penyelamatan Kulim Hi-Tech, Mohammad Haiqal Izwan Nasir, mengidentifikasi para korban sebagai Muhammad Aariz Danial Md Radzi (3 tahun), Muhammad Uzair Ahmadi Hussain (12 tahun), dan Nur Atikah Abdullah (28 tahun). Ketiganya dilaporkan terseret saat arus sungai tiba-tiba membesar akibat fenomena alam yang dikenal sebagai water surge.
Kepala Polisi Distrik Kulim, Superintenden Syamsul Sinring, mengatakan bahwa pihaknya menerima laporan dari masyarakat pada pukul 14.38 waktu setempat. Tim pemadam dan penyelamat segera dikerahkan ke area air terjun Sungai Sedim setelah mendapat informasi adanya beberapa korban terseret arus.
Menurut Syamsul, petugas melakukan pemantauan dan pencarian sebelum akhirnya warga setempat menemukan korban dalam keadaan mengambang di bagian tengah perbukitan. Tim penyelamat kemudian mengevakuasi jenazah untuk proses lebih lanjut. Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti water surge masih dalam penyelidikan.
Fenomena water surge atau air bah mendadak kerap terjadi di kawasan hutan tropis setelah hujan deras di hulu sungai. Meski cuaca di lokasi wisata tampak cerah, arus dari daerah yang lebih tinggi dapat mengalir deras tanpa peringatan. Kejadian serupa pernah tercatat di beberapa tempat wisata air di Indonesia, seperti Curug Cimahi dan Air Terjun Tumpak Sewu, yang menelan korban jiwa akibat kurangnya sistem peringatan dini.
โKami mengimbau pengunjung untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca dan tidak berenang di area yang tidak diawasi,โ ujar Syamsul dalam keterangannya.
Peristiwa di Kulim ini menjadi pengingat bagi pengelola wisata air di Indonesia untuk meningkatkan standar keselamatan. Pemasangan alat deteksi debit air, papan peringatan, serta pelatihan petugas tanggap darurat bisa menjadi langkah preventif. Bagi wisatawan, penting untuk mematuhi rambu-rambu dan tidak mengabaikan potensi bahaya meskipun kondisi air tampak tenang.
Ke depan, perlu ada koordinasi antara otoritas setempat dan pengelola objek wisata untuk menyusun protokol evakuasi yang lebih efektif. Apakah sistem peringatan dini yang ada saat ini sudah cukup untuk mencegah tragedi serupa? Pertanyaan ini layak dijawab oleh para pemangku kepentingan di sektor pariwisata alam.



