Rugbi Argentina Tumbuh Pesat di Bayang-Bayang Sepak Bola: Pelajaran bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Pelatih kepala Argentina, Felipe Contepomi, menyebut rugbi amatir di negaranya mengalami pertumbuhan pesat meski sepak bola tetap menjadi 'agama' utama.
- Argentina telah tiga kali mencapai semifinal Piala Dunia Rugbi sejak 2007, mendorong peningkatan jumlah pemain dan klub di tingkat akar rumput.
- Keberhasilan ini menawarkan model bagi negara seperti Indonesia untuk mengembangkan olahraga non-arus utama dengan prestasi internasional sebagai katalis.

Di tengah hiruk-pikuk demam sepak bola yang melanda Argentina—terlebih saat tim nasional mereka berpeluang meraih gelar juara dunia kedua berturut-turut—rugbi justru menunjukkan geliat pertumbuhan yang tak kalah menarik. Pelatih kepala tim nasional rugbi Argentina, Felipe Contepomi, mengungkapkan bahwa olahraga yang ia geluti kini tengah mengalami masa keemasan di level amatir.
"Rugbi amatir di Argentina sedang booming," kata Contepomi dalam wawancara dengan BBC Sport. "Ini adalah rugbi yang berbasis komunitas, dan klub-klub terus bertambah. Setiap tahun kami melihat lebih banyak orang bergabung." Meskipun demikian, ia dengan jujur mengakui bahwa rugbi tidak akan pernah bisa menyamai sepak bola dalam hal popularitas. "Sepak bola adalah agama bagi orang Argentina. Saya sendiri hidup untuk rugbi, tetapi sepak bola tetap mengalir dalam darah saya," ujarnya.
Pertumbuhan rugbi di Argentina tidak lepas dari prestasi gemilang Pumas—julukan tim nasional rugbi Argentina—di pentas dunia. Sejak 2007, mereka telah tiga kali menembus semifinal Piala Dunia Rugbi, sebuah pencapaian yang membangkitkan minat masyarakat terhadap olahraga yang dulunya hanya dimainkan kalangan tertentu. Kini, rugbi amatir tumbuh subur di berbagai kota, dengan klub-klub baru bermunculan dan jumlah pemain muda terus meningkat.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, terutama bagi Indonesia yang tengah berupaya mengembangkan olahraga non-arus utama. Model Argentina menunjukkan bahwa prestasi internasional yang konsisten dapat menjadi motor penggerak popularitas suatu cabang olahraga. Ketika tim nasional berprestasi, minat masyarakat mengikuti—klub bertambah, partisipasi meningkat, dan ekosistem olahraga menguat.
Contepomi juga menyoroti ambisi Argentina untuk menembus empat besar peringkat dunia rugbi. Target ini realistis mengingat konsistensi performa Pumas dalam satu dekade terakhir. Dengan basis pemain amatir yang terus membesar, Argentina memiliki fondasi kuat untuk bersaing di level tertinggi. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru jejak serupa? Atau setidaknya, mengambil pelajaran bahwa pengembangan olahraga membutuhkan investasi jangka panjang pada pembinaan usia dini dan kompetisi berjenjang?
Ke depan, Argentina akan menghadapi tantangan mempertahankan momentum pertumbuhan ini di tengah dominasi sepak bola yang tak tergoyahkan. Namun, jika tren saat ini berlanjut, bukan tidak mungkin rugbi akan menjadi 'agama kedua' bagi sebagian masyarakat Argentina. Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bahwa olahraga apa pun bisa berkembang jika dikelola dengan serius dan didukung prestasi yang membanggakan.



