Mengembalikan Makna Budaya Musim Hujan di Tengah Krisis Iklim: Pelajaran dari Dhaka
Baca dalam 60 detik
- Sebuah festival tari di Bangladesh berupaya merebut kembali narasi musim hujan dari citra negatif menjadi perayaan budaya.
- Acara tersebut juga menggalang dana untuk korban banjir, menunjukkan tanggung jawab sosial komunitas seni.
- Pendekatan ini relevan bagi Indonesia, di mana musim hujan kerap diasosiasikan dengan bencana, bukan warisan budaya.

Di tengah hiruk-pikuk kota Dhaka yang kerap dilumpuhkan banjir dan kemacetan saat musim hujan, seorang koreografer justru melihat musim itu sebagai panggung perayaan identitas budaya. Arthy Ahmed, penari dan koreografer asal Bangladesh, menolak membiarkan Barsha—sebutan lokal untuk musim hujan—tereduksi menjadi sekadar gambar jalan tergenang dan atap bocor. Lewat pagelaran tari bertajuk "Ghonoghota 2", ia dan timnya berupaya mengembalikan makna kultural musim hujan yang telah dirayakan selama berabad-abad di Benggala.
Acara yang digelar pada Jumat (17/7) di Bakultala, kampus Universitas Dhaka, ini bukan sekadar pertunjukan seni. Diorganisir oleh Arthy Ahmed Dance Academy bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa Universitas Dhaka, "Ghonoghota 2" juga menjadi ajang penggalangan dana bagi korban banjir di kawasan Chattogram Hill Tracts. Melalui kemitraan dengan Yayasan JAAGO, panitia menyediakan dua stan donasi di lokasi acara, sementara para penari dan kru turut menyisihkan penghasilan mereka.
"Kami mulai mempersiapkan acara ini empat bulan lalu, jauh sebelum banjir terjadi," ujar Ahmed. "Saat bencana datang, kami merasa tidak bisa mengabaikannya. Sebagai seniman, kami punya tanggung jawab terhadap masyarakat." Semangat ini menjadi benang merah yang menghubungkan seni dengan aksi kemanusiaan, sebuah pendekatan yang jarang terlihat di tengah komersialisasi seni pertunjukan.
- Lebih dari 300 penari berusia 3–70 tahun ambil bagian, terdiri dari anak-anak, pemula, hingga profesional dari berbagai profesi.
- Pertunjukan berdurasi 90 menit menampilkan 16 tarian yang terinspirasi karya Rabindranath Tagore, Kazi Nazrul Islam, dan tradisi folklor Benggala.
- Edisi pertama "Ghonoghota" tahun lalu mendapat sambutan luar biasa, mendorong penyelenggaraan edisi kedua yang lebih besar.
Ahmed menekankan bahwa di kota-kota besar seperti Dhaka, persepsi masyarakat terhadap musim hujan telah berubah drastis. "Orang sekarang lebih sering mengaitkan musim hujan dengan genangan air dan kemacetan," katanya. "Padahal Barsha sudah dirayakan di Benggala selama bergenerasi. Ini bagian dari budaya kami." Lewat tarian, musik, dan puisi, ia ingin mengajak warga kota kembali menyambut hujan sebagai momen kebersamaan dan rasa syukur, bukan sekadar gangguan.
Pendekatan ini relevan untuk direnungkan di Indonesia, di mana musim hujan kerap identik dengan bencana banjir dan tanah longsor. Di Jakarta, misalnya, curah hujan tinggi selalu memicu kemacetan parah dan kerugian ekonomi. Namun, tradisi seperti "Ruwatan Bumi" atau "Sedekah Bumi" di berbagai daerah justru merayakan hujan sebagai berkah. Sayangnya, ritual semacam itu semakin tergerus modernisasi. Inisiatif Ahmed bisa menjadi inspirasi bagi komunitas seni Indonesia untuk mengangkat kembali nilai-nilai kultural yang terkait dengan alam.
"Kami tidak tahu seberapa besar kontribusi yang bisa kami berikan. Tapi bersikap acuh tak acuh bukanlah pilihan." — Arthy Ahmed, koreografer dan penggagas Ghonoghota 2
Meski skala donasi mungkin terbatas, Ahmed menegaskan bahwa seniman tidak boleh berdiam diri saat krisis melanda. Sikap ini mencerminkan peran seni sebagai agen perubahan sosial, bukan sekadar hiburan. Dengan melibatkan peserta dari lintas usia dan profesi—dokter, insinyur, guru, jurnalis, peneliti, hingga ibu rumah tangga—acara ini juga membuktikan bahwa seni bisa menjadi medium inklusif untuk solidaritas.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi gerakan ini di tengah tekanan urbanisasi dan perubahan iklim. Apakah festival serupa bisa menjadi katalis untuk mengubah persepsi publik terhadap musim hujan, atau hanya akan menjadi acara tahunan yang tenggelam dalam rutinitas? Jawabannya bergantung pada sejauh mana komunitas seni dan masyarakat bersedia merawat warisan budaya yang nyaris terlupakan ini.



