Diplomasi Lontong Opor: Bupati Blora Jamu Pejabat Pusat di Warung Lokal untuk Promosi UMKM
Baca dalam 60 detik
- Bupati Blora Arief Rohman mengajak Sekjen ESDM dan rombongan makan siang di Warung Lontong Opor Pak Pangat sebagai bagian dari strategi promosi UMKM.
- Arief menyebut langkah ini sebagai 'diplomasi kuliner' yang diyakini lebih efektif meninggalkan kesan dibandingkan promosi konvensional.
- Sekjen ESDM Ahmad Erani Yustika memuji cita rasa lontong opor Blora, menandakan potensi UMKM lokal untuk dikenal di tingkat nasional.

Bupati Blora Arief Rohman memilih warung sederhana di pinggir kota sebagai tempat jamuan resmi untuk Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ahmad Erani Yustika, Jumat (17/7) lalu. Alih-alih menggunakan hotel atau restoran berbintang, ia membawa tamu negara itu ke Warung Lontong Opor Pak Pangat di Ngloram, sebuah langkah yang ia sebut sebagai diplomasi kuliner untuk memperkenalkan potensi UMKM lokal ke pusat kekuasaan.
Dalam pertemuan yang juga dihadiri Direktur PEM Akamigas Cepu Erdila Indriani, suasana makan siang berlangsung santai dan hangat. Arief sengaja memilih menu lontong opor ayam kampung, hidangan khas Lebaran yang menurutnya mampu membangkitkan selera dan kenangan. "Dari tampilannya saja sudah menggugah selera. Berasa suasana Lebaran terus," ujarnya di sela-sela menyantap hidangan.
Bagi Arief, mengajak pejabat pusat makan di warung lokal bukan sekadar urusan perut. Ini adalah strategi promosi yang matang. Ia percaya pengalaman langsung menikmati kuliner di tempat asalnya akan meninggalkan kesan lebih kuat dibandingkan brosur atau iklan. "Ketika mereka menikmati dan memberikan apresiasi, secara tidak langsung mereka ikut menjadi duta promosi bagi Blora," jelasnya. Dengan begitu, cerita tentang cita rasa Blora akan terbawa hingga ke Jakarta, membuka peluang investasi dan perluasan pasar bagi UMKM setempat.
Sekjen ESDM Ahmad Erani Yustika mengaku terkesan dengan cita rasa Lontong Opor Pak Pangat. Ia bahkan menyebut hidangan ini sebagai yang terbaik dibandingkan opor dari daerah lain. "Dulu saya membayangkan kalau opor yang enak itu berasal dari tempat kelahiran saya. Tapi setelah merasakan langsung, ini yang paling top. Yang lain gugur sebelum semifinal!" selorohnya, disambut tawa seluruh hadirin. Secara detail, ia memuji tekstur lontong yang tidak terlalu padat dan paduan opor yang luar biasa.
Apresiasi dari pejabat pusat ini menjadi suntikan moral bagi pelaku UMKM kuliner di Blora. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa cita rasa lokal tidak kalah bersaing dengan kuliner kota-kota besar. Lontong Opor Pak Pangat hanyalah satu dari ribuan UMKM yang tengah didorong untuk "naik kelas" oleh pemerintah daerah. Pemkab Blora secara paralel menjalankan program pemberdayaan, mulai dari pelatihan, kemudahan perizinan, penguatan branding, hingga digitalisasi pemasaran.
Arief menegaskan bahwa kemajuan Blora tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi dari seberapa berdaya ekonomi masyarakatnya. Melalui sepiring lontong opor yang hangat, Blora mengirim pesan ke tingkat nasional: bahwa di ujung Jawa Tengah ini, ada rasa yang berkelas, UMKM yang tangguh, dan keramahan yang siap menyambut siapa pun. Pertanyaannya, mampukah strategi diplomasi kuliner ini menjadi model bagi daerah lain dalam mempromosikan potensi lokal?



