Ahmad Luthfi Raih Penghargaan Impactful Regional Leadership: Bukti Konsistensi Pembangunan Jawa Tengah
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dianugerahi penghargaan Impactful Regional Leadership dalam SBBI Award 2026 atas capaian pembangunan berkelanjutan.
- Penghargaan ini menilai keberhasilan Jateng dalam pertumbuhan ekonomi 5,89%, realisasi investasi Rp110,64 triliun, dan penurunan kemiskinan menjadi 9,39%.
- Ke depan, kolaborasi lintas sektor dan pengembangan kawasan industri baru menjadi kunci untuk mempertahankan momentum pertumbuhan.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menerima penghargaan Impactful Regional Leadership dalam ajang Solopos Best Brand & Innovation (SBBI) Award 2026 yang digelar di The Alana Solo, Kabupaten Karanganyar, Jumat (17/7). Penghargaan ini diberikan atas kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mendorong pembangunan berkelanjutan yang mencakup pertumbuhan ekonomi, peningkatan investasi, dan penguatan UMKM.
CEO Solopos Media Group Arif Budi Susilo mengungkapkan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap kepemimpinan Ahmad Luthfi yang dinilai memiliki konsep pembangunan kuat namun tidak banyak terekspos. "Gubernur Jateng punya konsep pembangunan berkelanjutan yang sangat kuat, tetapi tidak banyak terlihat," ujarnya. Salah satu contoh nyata adalah percepatan pengembangan kawasan industri di sepanjang Pantura, termasuk Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).
Menurut Arif, konsistensi kebijakan yang dijalankan Pemprov Jateng berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melampaui rata-rata nasional. Ia mencontohkan pertumbuhan ekonomi Jateng yang mencapai 5,89 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,61 persen. "Mudah-mudahan ini konsisten sehingga dampaknya kepada masyarakat dalam menciptakan lapangan kerja tercapai, dan kesejahteraan masyarakat pada akhirnya juga akan meningkat," jelasnya.
Dalam sambutannya, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pembangunan Jawa Tengah tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia mengajak bupati, walikota, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha, akademisi, dan media untuk bersama-sama membangun Jateng. "Maka kita punya semangat collaborative government karena kita tidak bisa sendiri-sendiri," kata Luthfi.
Di sektor ekonomi, Luthfi membeberkan capaian realisasi investasi yang terus meningkat. Tahun 2025, realisasi investasi mencapai Rp110,64 triliun dengan 418 ribu tenaga kerja terserap. Pada Triwulan I-2026, angka tersebut sudah mencapai Rp23,02 triliun dengan 94 ribu tenaga kerja. Ia juga meminta seluruh bupati dan wali kota untuk menyiapkan kawasan industri dan ekonomi khusus baru. Saat ini, sudah ada 12 daerah yang mengajukan kawasan industri atau ekonomi khusus baru.
Pemprov Jateng juga fokus pada penguatan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian. Melalui akses pembiayaan, sertifikasi, digitalisasi pemasaran, dan perluasan pasar, UMKM didorong untuk naik kelas. Hingga Triwulan I-2026, sebanyak 199.781 UMKM telah dibina, meningkat 1.001 UMKM dibanding tahun sebelumnya, dengan penyerapan sekitar 1,38 juta tenaga kerja. "UMKM kita itu ada 4,8 juta, kebanyakan usaha mikro dan kecil. Kita terus dorong agar mereka naik kelas menjadi usaha menengah atau besar," jelas Luthfi.
Penghargaan ini menjadi indikator bahwa pendekatan pembangunan yang inklusif dan kolaboratif mulai membuahkan hasil. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah konsistensi kebijakan ini mampu bertahan di tengah dinamika politik dan ekonomi nasional, serta apakah daerah lain dapat meniru model pembangunan Jateng?



