Di Luar Dugaan: Penjualan Richemont Melonjak 20%, Sektor Perhiasan Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- Pemilik Cartier dan Van Cleef & Arpels mencatatkan pendapatan €6,3 miliar pada kuartal pertama tahun fiskal, melampaui ekspektasi analis yang hanya memperkirakan kenaikan 11%.
- Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan kuat di Jepang (naik 36%) dan Amerika (naik 27%), sementara Tiongkok daratan justru mengalami sedikit penurunan.
- Kinerja Richemont yang 'stratospheric' kontras dengan perlambatan di segmen fesyen dan aksesori milik LVMH serta Kering, menandai pergeseran preferensi konsumen ke barang mewah abadi.

Pemilik merek perhiasan Cartier dan Van Cleef & Arpels, Richemont, melaporkan lonjakan penjualan kuartalan sebesar 20% secara organik menjadi €6,3 miliar (sekitar Rp 101 triliun) pada periode April hingga Juni 2025. Angka ini jauh melampaui perkiraan analis yang hanya memprediksi pertumbuhan 11%, menandai awal musim laporan keuangan sektor barang mewah dengan nada optimistis setelah dua tahun perlambatan.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh divisi perhiasan yang mencatat kenaikan 24% secara organik. Ini merupakan kuartal ketujuh berturut-turut di mana bisnis perhiasan Richemont tumbuh dua digit. Sementara itu, divisi jam tangan dan merek fesyen seperti Chloé dan Alaïa masing-masing tumbuh 8% dan 9%. Analis Vontobel menyebut pencapaian ini sebagai 'stratospheric'—di luar nalar—berkat kekuatan ritel dan disiplin modal yang konsisten di tengah kondisi makro yang menantang.
Secara geografis, Jepang menjadi bintang dengan pertumbuhan 36% year-on-year, disusul Amerika yang naik 27%. Kawasan Eropa dan Asia Pasifik juga mencatatkan kenaikan di atas 10%. Namun, Tiongkok daratan justru mengalami penurunan tipis satu digit, meskipun kawasan Tiongkok Raya (termasuk Hong Kong dan Makau) tumbuh dua digit. Timur Tengah, yang sempat tertekan konflik, menunjukkan perbaikan bertahap dengan pertumbuhan 3%.
Kinerja gemilang Richemont kontras dengan perlambatan di segmen fesyen dan aksesori milik LVMH serta Kering. Hal ini mengindikasikan pergeseran preferensi konsumen global dari barang-barang fesyen musiman ke perhiasan dan jam tangan mewah yang dianggap sebagai investasi bernilai abadi. Bagi Indonesia, tren ini bisa menjadi sinyal bagi para pengusaha dan investor di sektor ritel mewah untuk lebih fokus pada produk-produk durable dan heritage, mengingat daya beli kelas atas di Tanah Air masih relatif stabil.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah momentum ini dapat bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global, terutama jika perlambatan di Tiongkok semakin dalam. Richemont sendiri tampaknya optimistis, namun para analis mengingatkan bahwa basis perbandingan yang tinggi pada kuartal-kuartal mendatang bisa menjadi tantangan.



