Enam Turis Tewas Akibat Metanol di Laos: Pemerintah Akui Tak Bisa Tentukan Penyebab
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Keamanan Publik Laos menyatakan tidak memiliki bukti forensik untuk menetapkan penyebab kematian enam turis asing akibat metanol, karena otopsi tidak dilakukan.
- Pemilik pabrik minuman keras hanya didakwa dengan pelanggaran ringan terkait penjualan produk berbahaya, bukan pembunuhan, dengan ancaman hukuman maksimal satu tahun penjara.
- Pemerintah Australia menyatakan frustrasi dan memanggil duta besar Laos, sementara Inggris meluncurkan kampanye peringatan risiko metanol bagi wisatawan.

Pemerintah Laos mengakui tidak mampu menentukan penyebab pasti maupun pihak yang bertanggung jawab atas kematian enam wisatawan asing yang diduga akibat mengonsumsi minuman keras mengandung metanol di Vang Vieng pada November 2024. Dalam pernyataan resmi, Kementerian Keamanan Publik Laos menyebut ketiadaan otopsi menjadi kendala utama untuk mengungkap fakta hukum.
Korban tewas meliputi satu warga Inggris, dua Australia, dua Denmark, dan satu Amerika Serikat. Mereka dilaporkan jatuh sakit setelah menenggak minuman gratis yang diduga dicampur metanolโbahan kimia beracun yang biasa digunakan sebagai pelarut cat, namun kerap disalahgunakan untuk menekan biaya produksi minuman keras ilegal. Metanol tidak berwarna dan memiliki rasa mirip etanol, tetapi dalam jumlah kecil pun bisa berakibat fatal karena tubuh mengubahnya menjadi formaldehida dan asam format yang merusak organ.
Kementerian Keamanan Publik Laos menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki cukup bukti untuk menetapkan apakah kematian tersebut disebabkan oleh tindakan individu tertentu atau faktor lain, karena otopsi tidak diizinkan dilakukan pada tahun 2024. Meski demikian, investigasi menemukan kadar metanol berlebihan dalam vodka yang diproduksi oleh pabrik setempat. Namun, pemilik pabrik hanya dijerat dengan pasal penjualan produk makanan berbahaya dan usaha ilegal, bukan pasal pembunuhan. Ancaman hukumannya maksimal satu tahun penjara dan denda sekitar US$1.100.
Keputusan ini menuai kecaman internasional, terutama dari Australia yang kehilangan dua warganya. Pemerintah Australia menyatakan "sangat frustrasi dan kecewa berat" karena tuntutan yang lebih serius tidak diajukan. Kementerian Luar Negeri Australia bahkan memanggil duta besar Laos di Canberra untuk meminta klarifikasi. Sementara itu, Inggris meluncurkan kampanye keselamatan bagi wisatawan yang bepergian ke Asia Tenggara, mengingatkan bahaya metanol dalam minuman keras ilegal.
Sebagian besar korban menginap di Nana Backpacker Hostel, tempat mereka dilaporkan tidak sadarkan diri pada 13 November. Sebelumnya, sepuluh orang yang terkait dengan hostel tersebut telah dijatuhi hukuman percobaan dan denda karena menghancurkan barang bukti. Vang Vieng, kota tepi sungai di Laos tengah, merupakan destinasi populer bagi pelancong hemat yang melintasi Asia Tenggara. Insiden ini memicu pertanyaan tentang pengawasan keamanan pangan dan perlindungan wisatawan di negara tersebut.
Ke depan, kasus ini berpotensi mempengaruhi industri pariwisata Laos yang tengah berupaya pulih pascapandemi. Tekanan diplomatik dari negara-negara korban, terutama Australia dan Inggris, bisa mendorong reformasi regulasi minuman keras dan penegakan hukum yang lebih ketat. Namun, tanpa kemauan politik yang kuat, risiko serupa masih mengintai para pelancong di kawasan ini. Akankah Laos mengambil langkah konkret untuk mencegah tragedi serupa, atau justru membiarkan kasus ini menguap begitu saja?



