Dari Singapura ke Peru: Chili Crab dan Laksa Mengguncang Lidah Lima
Baca dalam 60 detik
- Enam koki dari Singapura dan Peru menyajikan hidangan ikonik Negeri Singa untuk 180 tamu di restoran La Mar, Lima, dalam kolaborasi kuliner berskala besar pertama di Peru.
- Sebanyak 70 kg bahan baku khas Singapura, termasuk daun laksa dan saus chili crab, diterbangkan langsung ke Lima demi menghadirkan cita rasa autentik.
- Kolaborasi ini diharapkan membuka pintu bagi lebih banyak pertukaran kuliner Asia-Latin, memperkuat posisi Singapura sebagai destinasi gastronomi global.

Untuk pertama kalinya, hidangan ikonik Singapura seperti chili crab, laksa, dan chicken rice diperkenalkan secara resmi di Peru melalui sebuah jamuan makan malam yang dihadiri 180 orang di restoran ternama La Mar oleh Gaston Acurio di Lima. Acara yang berlangsung pada 16 Juli lalu ini menjadi tonggak baru diplomasi kuliner Singapura di Amerika Latin.
Enam koki yang terlibat dalam kolaborasi ini adalah Paul dan Wayne Liew dari Keng Eng Kee (KEK) Seafood, Petrina Loh dari Morsels, serta Daniel dan Tamara Chavez dari Canchita. Mereka membawa sekitar 70 kilogram bahan baku dari Singapura, mulai dari daun laksa, rempah, saus chili crab, saus lada hitam, kulit kueh pie tee, hingga ikan goreng dan cabai rawit dalam jumlah besar.
Daniel Chavez, koki asal Peru yang telah menetap di Singapura selama lebih dari dua dekade, mengungkapkan bahwa ide ini berawal dari keinginan untuk memperkenalkan cita rasa Negeri Singa kepada rekan senegaranya. “Kami melihat seri acara di La Mar yang mengundang koki-koki dunia, dan terpikir untuk menggabungkan cita rasa Singapura dengan energi Amerika Latin,” ujarnya. Gaston Acurio, pemilik La Mar, langsung menyetujui konsep tersebut.
Dalam menu malam itu, Chavez dan istrinya Tamara menyajikan aneka saus sambal dengan ikan goreng, lohei dari halibut, kerang, dan gurita, kueh pie tee berisi lobak, udang sungai, dan bulu babi, serta chicken rice dengan saus jahe. Sementara itu, Loh membawakan laksa dengan pasta cabai fermentasi dan aneka udang Peru, sedangkan kakak-beradik Liew menghadirkan lobster lada hitam dan chili crab dengan roti goreng. Penutupnya adalah mango sago dan pineapple tarts.
Paul Liew dari KEK mengaku terkesan dengan kesamaan budaya kuliner antara Singapura dan Peru. “Kami datang dengan dua rasa khas Singapura—chili crab dan lada hitam—dan memadukannya dengan seafood luar biasa di sini. Yang mengejutkan, budaya makan bersama terasa sangat mirip. Di Singapura, zi char adalah tentang berbagi makanan sambil ngobrol, dan energi yang sama kami rasakan di Peru,” katanya.
Bagi Loh, momen ini sangat personal. “Laksa adalah hidangan yang sangat khas bagi saya. Melihat orang Peru menemukan rasa Singapura sambil mengenali pengaruh yang menghubungkan kuliner kami, mengingatkan saya bahwa makanan memiliki kekuatan menyatukan budaya,” ujarnya. Daniel Chavez menambahkan, “Meski kami tidak lahir di Singapura, kami telah tinggal di sana lebih dari 20 tahun dan sangat menghargai budaya makannya. Kami bangga bisa berbagi rasa ini dengan orang-orang di kampung halaman.”
Acara ini diharapkan menjadi model bagi kolaborasi serupa di masa depan, memperkuat posisi Singapura sebagai destinasi kuliner global. Bagi Indonesia, yang juga kaya akan kuliner Nusantara, langkah ini bisa menjadi inspirasi untuk lebih gencar mempromosikan rendang, sate, atau gado-gado di panggung internasional melalui pendekatan serupa—kolaborasi dengan koki lokal dan penggunaan bahan baku autentik. Apakah akan ada chef Indonesia yang mengikuti jejak ini di Amerika Latin?



