FIFA Bayar Klub Peserta Piala Dunia: AC Milan Terima Hampir €2 Juta, Manchester City Paling Untung
Baca dalam 60 detik
- FIFA mengalokasikan dana €215 juta untuk klub-klub yang melepas pemainnya ke Piala Dunia, dengan Manchester City menjadi penerima terbesar sekitar €4 juta.
- AC Milan memimpin di Serie A dengan perolehan hampir €2 juta berkat kontribusi 10 pemain, termasuk dua bintang Prancis yang masing-masing menyumbang €240 ribu.
- Klub-klub Premier League mendominasi dengan total penerimaan €40 juta, jauh melampaui Serie A (€13 juta) dan La Liga (€18 juta).

FIFA kembali menyalurkan dana kompensasi kepada klub-klub yang melepas pemainnya ke Piala Dunia 2022 melalui program Club Benefits Programme. Total anggaran mencapai €215 juta, dan untuk pertama kalinya AC Milan tercatat sebagai klub Italia dengan penerimaan tertinggi, sekaligus menembus jajaran 10 besar global.
Berdasarkan data yang dirilis Gazzetta dello Sport, Milan akan menerima hampir €2 juta. Angka ini berasal dari sepuluh pemain yang membela tim nasional masing-masing, dengan total akumulasi 456 hari partisipasi di turnamen. Dua pemain Prancis, kiper Mike Maignan dan gelandang Adrien Rabiot, menjadi kontributor terbesar dengan masing-masing menyumbang €240 ribu.
Di luar Italia, Manchester City menjadi klub paling diuntungkan dengan perolehan sekitar €4 juta. Disusul Barcelona (€3,3 juta) dan Arsenal (€3,2 juta). Ketimpangan antar liga terlihat jelas: Premier League secara kolektif menerima €40 juta, sementara La Liga hanya €18 juta dan Serie A €13 juta. Hal ini mencerminkan dominasi klub Inggris dalam mengirimkan pemain ke fase-fase akhir turnamen.
Di kancah Serie A, persaingan ketat terjadi di papan atas. Atalana menempati posisi kedua dengan €1,4 juta berkat delapan pemain, meski hanya Charles De Ketelaere yang melaju melewati babak 16 besar. Inter Milan mengikuti di urutan ketiga dengan €1,3 juta; kapten Lautaro Martinez yang mencapai final menjadi penyumbang utama. Menariknya, Como—klub promosi yang baru kembali ke Serie A—juga mendapat €580 ribu berkat Nico Paz dan dua pemain lainnya.
Juventus berada di peringkat keempat, sementara Bologna secara mengejutkan masuk lima besar. Data ini menunjukkan bahwa kontribusi pemain tidak selalu sebanding dengan besarnya nama klub; faktor jumlah pemain dan kedalaman turnamen sangat menentukan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, skema kompensasi FIFA ini relevan mengingat banyak klub Asia, termasuk dari Liga 1, mulai melepas pemain ke turnamen internasional. Meskipun belum ada klub Indonesia yang menerima dana signifikan, potensi pendapatan dari program serupa bisa menjadi insentif bagi pengembangan pemain muda dan kerja sama dengan klub Eropa.
Ke depan, dengan format Piala Dunia yang diperluas menjadi 48 tim pada 2026, jumlah peserta dan durasi turnamen akan bertambah. Hal ini berpotensi meningkatkan total kompensasi FIFA dan memperlebar kesenjangan antara klub kaya dan kecil. Pertanyaannya, akankah klub-klub Asia mampu memanfaatkan peluang ini untuk bersaing di panggung global?



