Netflix Akuisisi Film Danny Boyle tentang Rupert Murdoch dan Kelahiran Tabloid Modern
Baca dalam 60 detik
- Netflix membeli hak distribusi film 'Ink' untuk wilayah AS dan Amerika Latin, menandai langkah strategis memperkuat jajaran konten biopik kontroversial.
- Film garapan Danny Boyle ini mengisahkan perjuangan Rupert Murdoch membangun The Sun menjadi koran tabloid paling laris, yang mengubah lanskap media global.
- Penayangan perdana di Festival Film Venesia September mendatang menjadi ajang uji coba sebelum dirilis secara streaming di platform Netflix.

Netflix resmi mengakuisisi hak distribusi film Ink untuk kawasan Amerika Serikat dan Amerika Latin, sebuah drama biopik yang mengupas ambisi Rupert Murdoch menjadikan The Sun sebagai koran tabloid paling berpengaruh di Inggris. Langkah ini mempertegas strategi raksasa streaming itu dalam menghadirkan konten bernuansa sejarah media yang sarat kontroversi.
Film yang disutradarai Danny Boyle ini akan memulai debutnya di Festival Film Venesia pada September mendatang. Ink mengisahkan perjalanan Murdoch—diperankan oleh Guy Pearce—dalam membeli The Sun pada 1969 dan menunjuk Larry Lamb (Jack O'Connell) sebagai editor. Bersama, mereka menciptakan formula pemberitaan populis yang menantang koran mapan seperti Daily Mirror, sekaligus melahirkan era baru jurnalisme tabloid di Inggris.
Boyle menggambarkan film ini sebagai "rollercoaster sinematik yang eksplosif" tentang sekelompok visioner dan orang-orang pinggiran yang menciptakan model berita baru: memberi apa yang diinginkan publik. Dalam pernyataannya, sutradara Trainspotting itu menekankan bahwa kisah Murdoch dan Lamb terjadi jauh sebelum era Fox News, media sosial, dan platform digital saat ini. "Mereka menantang kemapanan dan membentuk kembali dunia kita untuk era modern," ujarnya.
Bagi penonton Indonesia, film ini menawarkan refleksi tentang bagaimana kekuatan media dapat membentuk opini publik dan politik. Di tengah maraknya berita palsu dan polarisasi, kisah kebangkitan The Sun menjadi pengingat bahwa tabloidisasi berita bukanlah fenomena baru, melainkan strategi yang telah teruji selama puluhan tahun. Industri media Tanah Air pun tak luput dari dinamika serupa, di mana beberapa portal berita mengadopsi pendekatan sensasional untuk mengejar klik dan pembaca.
Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Boyle mengenang pengalaman syuting Trainspotting yang sempat menuai kecaman karena dianggap tidak bertanggung jawab terhadap isu narkoba. Namun, kritikus Muriel Gray justru membela film tersebut, menyebut para pengkritik tidak memahami substansi cerita. Momen itu menjadi titik balik yang membuat Boyle sadar bahwa kontroversi justru bisa mendorong kesuksesan—sebuah pelajaran yang relevan dengan narasi Ink.
Dengan akuisisi ini, Netflix kembali menunjukkan keberaniannya mengangkat subjek kontroversial. Pertanyaan selanjutnya: akankah Ink mampu menyajikan potret Murdoch secara berimbang, atau justru menjadi kritik tajam terhadap industri media yang ia bangun? Jawabannya akan mulai terlihat saat lampu Venesia padam dan layar Netflix menyala.



