Serangan Israel di Pemakaman Gaza Tewaskan 7 Orang, Gencatan Senjata Makin Rapuh
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara Israel menghantam prosesi pemakaman di kamp Nuseirat, menewaskan tujuh warga dan melukai 22 lainnya, menurut rumah sakit setempat.
- Militer Israel mengaku menargetkan 'sel teroris' Jihad Islam Palestina, namun mengakui kemungkinan adanya korban sipil dalam insiden tersebut.
- Eskalasi ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh, dengan jumlah serangan Israel tertinggi sejak kesepakatan Oktober, mencapai 40 serangan pada Juni.

Serangan udara Israel menghantam sebuah prosesi pemakaman di Kamp Nuseirat, Jalur Gaza tengah, Jumat (18/7), menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 22 lainnya. Insiden ini menambah panjang daftar korban sipil di tengah gencatan senjata yang mulai goyah antara Israel dan Hamas.
Rumah Sakit Awda di Nuseirat mengonfirmasi jumlah korban, menyebutkan bahwa para pelayat sedang menghadiri pemakaman seorang warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel sebelumnya pada hari yang sama. Serangan awal itu menewaskan dua orang, dan militer Israel mengaku menargetkan seorang militan Hamas tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Militer Israel menyatakan bahwa serangan di pemakaman itu menyasar "sel teroris" dari kelompok Jihad Islam Palestina. Dalam pernyataannya, mereka mengakui adanya kemungkinan warga sipil ikut menjadi korban. Sementara itu, kelompok Hamas mengecam serangan tersebut sebagai "kejahatan keji".
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober lalu, setidaknya 1.123 orang telah tewas di Gaza, menurut Kementerian Kesehatan setempat. Kementerian yang berada di bawah pemerintahan Hamas ini mencatat bahwa perempuan dan anak-anak menjadi mayoritas korban, meskipun tidak merinci jumlah kombatan dan warga sipil secara terpisah. Data tersebut dianggap umumnya andal oleh lembaga PBB dan pakar independen.
Dalam beberapa pekan terakhir, Israel meningkatkan intensitas serangan di Gaza, menargetkan kendaraan, tenda, bangunan, dan orang-orang di jalanan. Menurut data Armed Conflict Location and Event Data (ACLED), Israel melancarkan 40 serangan yang menargetkan militan pada Juni laluโjumlah bulanan tertinggi sejak gencatan senjata dimulai. Militer Israel beralasan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap tembakan dan pelanggaran lain dari kelompok militan. Sejak gencatan senjata, lima tentara Israel tewas.
Perang meletus setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan dan menyandera 251 orang. Serangan balasan Israel sejak itu telah menewaskan lebih dari 73.264 warga Palestina, termasuk korban pasca-gencatan senjata, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Angka ini terus bertambah seiring eskalasi terkini.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki resonansi kuat mengingat posisi pemerintah yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Serangan terhadap warga sipil, terutama di tempat ibadah dan pemakaman, kerap memicu kecaman dari berbagai organisasi masyarakat sipil di Tanah Air. Di tengah situasi yang kian memanas, pertanyaan besar mengemuka: mampukah gencatan senjata yang rapuh ini bertahan, atau akankah kawasan itu kembali terjerumus ke dalam perang skala penuh?



