Rencana Perumahan Sunset Way Belum Final, HDB Buka Ruang Aspirasi Warga
Baca dalam 60 detik
- HDB menegaskan rencana pembangunan perumahan di Sunset Way belum final dan akan mempertimbangkan masukan warga serta hasil kajian lingkungan.
- Lebih dari 100 warga menghadiri sesi dialog tertutup untuk menyuarakan kekhawatiran atas hilangnya hutan kota Maju Forest yang menjadi paru-paru kawasan.
- Petisi online menolak pembukaan lahan hijau telah mengumpulkan lebih dari 17.000 tanda tangan, mendesak prioritas pada lahan brownfield.

Rencana pembangunan perumahan di kawasan Sunset Way, Singapura, belum menjadi keputusan akhir. Otoritas Perumahan dan Pembangunan (HDB) menyatakan masih terbuka terhadap masukan publik, terutama terkait nasib hutan kota Maju Forest yang menjadi sumber kesejukan dan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.
Kepala Perencana Kota HDB, Chong Fook Loong, menegaskan bahwa pihaknya harus mencari keseimbangan antara kebutuhan hunian dan pelestarian alam. "Kami harus membuat kompromi. Kami perlu memahami cara menyeimbangkan perumahan dan alam untuk menghasilkan rencana terbaik, seperti yang selalu kami lakukan di mana pun," ujarnya dalam sesi dialog tertutup yang dihadiri lebih dari 100 warga, Jumat (17/7).
HDB sebelumnya mengumumkan bahwa Sunset Way dan Gillman Barracks akan dikembangkan menjadi kawasan hunian. Sekitar 8 hektare dari total 23 hektare area studi akan dipertahankan, terutama di tepi hutan. Kebijakan ini memicu reaksi beragam dari warga yang telah lama menikmati keberadaan hutan kota tersebut.
Warga yang hadir dalam sesi dialog menyampaikan kekhawatiran terkait hilangnya ruang hijau, kemacetan lalu lintas, dan dampak konstruksi seperti kebisingan. Sim Ann, Anggota Parlemen Holland-Bukit Timah GRC, mengakui adanya perasaan kehilangan di kalangan warga. "Beberapa warga menyatakan rasa kehilangan akan penghijauan. Ada juga yang khawatir tentang dampak lalu lintas dan ketidaknyamanan selama konstruksi," katanya.
Salah satu warga, Mdm Teo (68), yang telah tinggal di Sunset Way selama tiga dekade, mengaku hancur saat membaca pengumuman tersebut. Ia rutin memotret satwa liar di tepi hutan, termasuk monyet ekor panjang dan biawak. "Bagi kami yang tinggal di sini, ini adalah kesempatan langka untuk hidup di lingkungan perkotaan namun tetap dekat dengan alam. Ikatan ini sangat berharga," ujarnya.
Namun, tidak semua warga menentang pembangunan. Seorang pria yang telah tinggal selama 40 tahun di Sunset Way mendukung pembangunan sebagai kebutuhan pertumbuhan Singapura. "Singapura memiliki banyak penduduk tetapi lahannya terbatas. Tidak ada yang bisa dilakukan," katanya dalam bahasa Mandarin. Ia berharap dapat pindah ke flat baru karena bloknya saat ini sudah tua.
Warga lain, Raymond Ho (79), justru menyambut baik pengurangan populasi monyet yang kerap masuk ke rumahnya melalui balkon. Sementara itu, Winston Choo (85) yang membeli propertinya pada 1964, meminta agar desain perumahan baru tidak mengganggu privasi, aliran angin, dan tingkat kebisingan lingkungan sekitar.
HDB menegaskan bahwa pengembangan Sunset Way didasari oleh Analisis Dampak Lingkungan (Environmental Impact Assessment) yang membantu memahami signifikansi ekologis kawasan tersebut. Chong Fook Loong menambahkan, "Rencana itu belum final. Kami sedang mengerjakannya. Melalui rencana dan kompromi ini, kami berharap dapat bekerja lebih lanjut dengan warga dan pemangku kepentingan."
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian ruang terbuka hijau di kota-kota besar. Dengan urbanisasi yang pesat, keputusan serupa kerap dihadapi di Jakarta, Bandung, atau Surabaya. Pengalaman Singapura dalam melibatkan warga dan melakukan kajian lingkungan dapat menjadi referensi bagi pengambil kebijakan di Indonesia.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah sejauh mana HDB akan mengakomodasi aspirasi warga dan mempertahankan ekosistem hutan kota. Apakah kompromi antara 8 hektare yang dipertahankan dan kebutuhan hunian akan cukup memuaskan semua pihak? Ataukah petisi dengan ribuan tanda tangan akan mendorong perubahan signifikan dalam rencana tersebut?



