Patung Aung San Mulai Dihilangkan: Pertarungan Simbolik di Myanmar Pasca-Kudeta
Baca dalam 60 detik
- Patung Jenderal Aung San, pahlawan kemerdekaan Myanmar, perlahan dibongkar oleh junta militer di berbagai kota, memicu perdebatan soal warisan sejarah.
- Pembongkaran ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk memutus simbol politik yang melekat pada Aung San Suu Kyi, pemimpin sipil yang digulingkan dalam kudeta 2021.
- Meski patung fisik dihilangkan, ingatan publik terhadap Aung San tetap kuat, terutama melalui peringatan Hari Martir tahunan yang masih dihadiri ribuan warga.

Patung-patung Jenderal Aung San, arsitek kemerdekaan Myanmar, mulai satu per satu menghilang dari ruang publik di bawah rezim junta militer pimpinan Min Aung Hlaing. Tindakan ini memicu pertanyaan tentang upaya penguasa militer untuk mengendalikan narasi sejarah di tengah perang saudara yang berkecamuk.
Di Thu Mingalar Park, Yangon, sebuah patung setinggi hampir dua meter yang dipasang satu dekade lalu kini hanya menyisakan hamparan rumput baru. Pemerintah militer mengakui telah menurunkan beberapa patung dengan alasan "proporsi dan bentuk yang tidak sesuai". Namun, para analis menilai langkah ini lebih bermuatan politis: menghapus simbol yang erat dikaitkan dengan Aung San Suu Kyi, pemimpin sipil yang digulingkan dalam kudeta 2021 dan masih ditahan.
Menurut Moe Thuzar, pengamat Myanmar dari ISEAS–Yusof Ishak Institute, Aung San "terukir dalam ingatan rakyat" sebagai pahlawan kemerdekaan. Banyak warga melihat warisan sang jenderal diteruskan oleh putrinya, Suu Kyi. Ketika Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) berkuasa pada 2016–2020, mereka gencar memasang patung Aung San dan mengembalikan wajahnya ke uang kertas. "Itu adalah upaya menghidupkan kembali warisan sejarahnya," ujar Moe Thuzar.
Sejak kudeta, militer berfokus untuk membuat Suu Kyi dan NLD "tidak relevan secara politik". Namun, menghapus ingatan tentang Aung San bukan perkara mudah. Setiap 19 Juli, peringatan Hari Martir—hari pembunuhan Aung San dan enam koleganya oleh rival lokal—masih dihadiri ribuan warga yang memberi hormat di mausoleum Yangon. Seorang warga Yangon berusia 34 tahun yang enggan disebut namanya mengatakan, "Mereka bisa menyingkirkan patung, tapi tidak akan pernah bisa menghapus citra Bogyoke (jenderal). Mereka sudah punya kekuasaan dan senjata, tapi masih takut pada apa?"
Juru bicara pemerintah, Khaing Khaing Soe, menyatakan bahwa hanya patung dengan "proporsi dan bentuk yang tidak sesuai" yang ditinjau. Ia menambahkan bahwa "upaya pemeliharaan sistematis" dilakukan untuk mencegah "ketidakhormatan" dan memastikan generasi mendatang dapat mempelajari warisan sejarah Myanmar dengan benar. Namun, warga setempat membantah. Seorang warga di Yangon mengatakan patung di Mya Kan Thar Park "benar-benar bagus, proporsinya pas". Di Mudon, warga lain melaporkan bahwa bekas fondasi patung ditutup terpal plastik dan "tidak ada yang berani mengeluh".
Di sisi lain, simbol Aung San tidak selalu diterima oleh semua kelompok etnis. Morgan Michaels, peneliti Myanmar dari International Institute for Strategic Studies, mencatat bahwa Aung San lebih dirayakan oleh elit etnis Bamar, sementara kelompok minoritas seperti Kachin dan Karenni memiliki pahlawan sendiri. "Mereka tidak suka pemaksaan patungnya karena itu juga simbol dominasi Bamar atas negara," ujarnya. Seorang politisi dari kelompok etnis minoritas yang enggan disebut namanya mengakui perjuangan Aung San, tetapi menuduh NLD memasang patung untuk kepentingan partai. "Era mereka sudah berakhir," katanya.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat betapa rentannya simbol sejarah digunakan sebagai alat politik. Di tengah konflik bersenjata yang melibatkan militer dan aliansi kelompok etnis bersenjata, penghapusan patung Aung San bisa memperdalam polarisasi. Pertanyaannya, akankah junta berhasil memadamkan ingatan kolektif tentang sang pahlawan, atau justru memperkuat resistensi rakyat?



