Depresi Bukan Sekadar Gangguan Mental: Studi Australia Temukan Dampak pada Kelima Indra
Baca dalam 60 detik
- Peneliti Australia menemukan bahwa depresi menurunkan sensitivitas seluruh panca indra, fenomena yang disebut 'hiposensitivitas sensorik'.
- Temuan ini membuka jalan bagi diagnosis yang lebih komprehensif dan terapi yang lebih personal, tidak hanya berfokus pada aspek kognitif-emosional.
- Di Indonesia, dengan keterbatasan akses layanan kesehatan mental, pendekatan baru ini bisa menjadi terobosan untuk deteksi dan penanganan depresi yang lebih efektif.

Depresi selama ini dipahami sebagai gangguan yang terutama memengaruhi suasana hati dan pikiran. Namun, sebuah studi terbaru dari University of New England (UNE) Australia mengungkap dimensi baru: depresi ternyata juga menumpulkan seluruh panca indra—penglihatan, pendengaran, peraba, pengecap, dan penciuman. Temuan ini tidak hanya mengubah cara pandang terhadap depresi, tetapi juga berpotensi merevolusi metode diagnosis dan pengobatannya.
Riset yang dipublikasikan di jurnal Translational Psychiatry (Nature) itu menganalisis 51 studi sebelumnya dan membandingkan respons sensorik antara individu dengan depresi dan tanpa depresi. Hasilnya, kelompok depresi menunjukkan penurunan sensitivitas yang signifikan pada semua indra—kondisi yang disebut para peneliti sebagai "hiposensitivitas sensorik". Menurut Christopher Sharpley, profesor neurosains UNE yang memimpin studi, ini adalah dokumentasi paling rinci yang pernah ada tentang bagaimana depresi memicu respons seluruh tubuh, bukan hanya otak.
Sharpley menjelaskan bahwa penarikan diri secara sensorik ini merupakan mekanisme pertahanan tubuh ketika seseorang menghadapi rasa sakit, kehilangan, stres, atau konflik yang tak tertahankan. "Ketika dunia seseorang menjadi begitu menyakitkan atau tidak bisa dihindari sehingga mereka tidak mampu lagi mengatasinya, satu-satunya respons tubuh adalah menarik diri," ujarnya. Penurunan kepekaan indra, menurutnya, membantu tubuh "menarik diri" dari lingkungan yang sangat tidak menyenangkan.
Implikasi dari temuan ini sangat luas. Selama ini, diagnosis depresi lebih banyak mengandalkan laporan subjektif pasien mengenai suasana hati dan pikiran. Dengan memasukkan gejala penarikan sensorik ke dalam kriteria diagnostik, dokter dapat memperoleh gambaran yang lebih objektif dan komprehensif. Lebih jauh, studi ini juga mendukung pendekatan pengobatan yang lebih personal. Tim UNE sebelumnya telah mengidentifikasi lima subtipe depresi berdasarkan pola gelombang otak yang berbeda, masing-masing memerlukan strategi terapi yang spesifik—bukan pendekatan seragam seperti yang lazim dilakukan.
Bagi Indonesia, temuan ini membawa angin segar sekaligus tantangan. Dengan prevalensi depresi yang diperkirakan mencapai 3,7% dari populasi (data Riskesdas 2018) dan keterbatasan tenaga psikiater—hanya sekitar 1.000 psikiater untuk 270 juta penduduk—pendekatan diagnosis yang lebih sederhana dan objektif sangat dibutuhkan. Jika hiposensitivitas sensorik dapat diukur dengan alat sederhana, misalnya tes sensitivitas sentuhan atau penciuman, maka depresi bisa dideteksi lebih awal oleh tenaga kesehatan primer, bahkan di puskesmas. Namun, perlu penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi temuan ini pada populasi Indonesia yang beragam secara etnis dan budaya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah gejala penarikan sensorik ini akan diadopsi dalam pedoman diagnostik internasional seperti DSM atau ICD? Jika ya, maka dunia kesehatan mental—termasuk di Indonesia—harus bersiap untuk perubahan paradigma: depresi bukan lagi sekadar "penyakit pikiran", melainkan kondisi yang memengaruhi seluruh tubuh, dari ujung rambut hingga ujung kaki.



