Gagal Meluncur, SpaceX Kehilangan Rp1.600 Triliun dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- SpaceX membatalkan peluncuran Starship ke-13 pada menit-menit terakhir karena empat mesin tidak menyala, memicu aksi jual saham.
- Nilai pasar SpaceX anjlok sekitar Rp1.600 triliun dalam sehari, menunjukkan sensitivitas investor terhadap kemajuan program roket raksasa tersebut.
- SpaceX menargetkan peluncuran ulang pada awal pekan depan, sementara misi komersial perdana Starship dijadwalkan akhir tahun ini.

Kegagalan teknis pada detik-detik terakhir menghantam SpaceX: roket Starship batal meluncur Kamis lalu karena sistem keselamatan mematikan mesin secara otomatis. Akibatnya, saham perusahaan yang baru melantai di bursa itu ambrol hingga 6 persen, menguapkan nilai pasar sekitar Rp1.600 triliun dalam hitungan jam.
Insiden terjadi saat uji terbang ke-13 di fasilitas Starbase, Texas. Dari 33 mesin Raptor di bagian booster, empat di antaranya gagal menyala. Sistem abort langsung menghentikan proses lepas landas. Meski demikian, Elon Musk, pendiri SpaceX, menyebut kegagalan ini sebagai bagian dari proses pengembangan. "Kami akan mengganti dua mesin booster untuk memastikan penerbangan berikutnya berjalan baik," tulisnya di platform X.
SpaceX kini menargetkan peluncuran ulang paling cepat Senin, 20 Juli. Rokok setinggi 120 meter itu akan membawa 20 satelit Starlink mini untuk menguji sistem penyebaran satelit dan komunikasi laser. Namun, satelit-satelit tersebut direncanakan jatuh dan terbakar di atmosfer setelah mengorbit sebentar.
Penurunan saham ini menjadi ujian pertama bagi SpaceX sebagai perusahaan publik. Sejak IPO dengan harga $135 per lembar, saham sempat menyentuh $225,64 sebelum terus merosot. Harga kini berada di $124,30, di bawah harga perdana. "Jika ini reaksi pasar terhadap abort yang bersifat pencegahan, saya penasaran bagaimana reaksi saat penerbangan sukses nanti," ujar Chad Anderson, CEO Space Capital dan investor SpaceX sejak 2017.
Anderson menambahkan bahwa fluktuasi harian tidak mengubah fundamental jangka panjang. "Kita masih di awal siklus infrastruktur multi-dekade, dan Starship adalah pusatnya." Namun, tekanan untuk segera mengoperasikan Starship semakin besar setelah hampir satu dekade pengembangan dengan biaya lebih dari $15 miliar.
Bagi Indonesia, perkembangan Starship memiliki implikasi strategis. Jika SpaceX berhasil mengoperasikan Starship secara rutin, biaya peluncuran satelit diprediksi turun drastis. Hal ini membuka peluang bagi operator satelit nasional seperti Telkomsat atau Pasifik Satelit Nusantara untuk menjangkau orbit lebih murah. Namun, ketergantungan pada satu penyedia layanan peluncuran juga berisiko, terutama jika SpaceX terus mengalami penundaan.
SpaceX sendiri telah melakukan 12 uji terbang Starship sejak 2023, beberapa berakhir ledakan. Pendekatan uji-coba-ke-gagalan ini memang menjadi andalan perusahaan untuk berinovasi cepat, tetapi juga menguras modal. "Ini cara kami belajar dengan aman dan menerapkan mitigasi untuk semua skenario," kata Jessie Anderson, insinyur produksi Starship.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah SpaceX mempertahankan kepercayaan investor di tengah jadwal yang terus molor? Ataukah kegagalan teknis seperti ini justru menjadi batu loncatan menuju dominasi antariksa yang sesungguhnya?



