Bentrokan Adonara NTT Tewaskan Tiga Orang, Satu Jenazah Tertahan di Jalan
Baca dalam 60 detik
- Bentrokan dua kelompok pemuda di Flores Timur, NTT, Sabtu pagi menewaskan tiga orang dan membakar belasan rumah.
- Satu jenazah korban belum bisa dievakuasi karena terhalang ratusan massa yang masih berkumpul di lokasi.
- Polisi menambah personel dan bernegosiasi dengan tokoh masyarakat untuk meredam situasi serta mengevakuasi korban.

Bentrokan berdarah antara dua kelompok pemuda di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (18/7) pagi, merenggut tiga jiwa dan menyisakan satu jenazah yang masih tergeletak di jalan karena terhalang massa hingga siang hari.
Wakapolres Flores Timur, Kompol Ketut Mastina, mengonfirmasi bahwa hingga pukul 14.00 WITA, satu jenazah korban belum berhasil dievakuasi. โMassa masih banyak, ambulans sudah ada di lokasi tapi belum bisa menjangkau jenazah,โ ujarnya. Jenazah tersebut diduga tewas akibat bacokan saat bentrokan pecah antara pemuda Desa Narasaosina dan Desa Waiburak.
Dari tiga korban jiwa, dua berasal dari Desa Narasaosina dan satu dari Dusun Bele, Desa Waiburak. Dua jenazah sebelumnya sudah diambil oleh masing-masing keluarga, sementara satu korban asal Narasaosina masih tertahan di jalan raya Waiburak. Petugas medis dan ambulans sudah bersiaga di sekitar lokasi, tetapi konsentrasi massa yang mencapai ratusan orang menghalangi proses evakuasi.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra, menyatakan bentrokan terjadi sekitar pukul 06.30 WITA. Penyebab konflik masih dalam penyelidikan. โBelum diketahui secara pasti pemicunya,โ katanya. Selain korban jiwa, belasan rumah warga juga dilaporkan hangus terbakar dalam amuk massa.
Untuk mengantisipasi eskalasi, Polres Flores Timur telah mengerahkan personel tambahan ke lokasi. Pihak kepolisian juga terus bernegosiasi dengan tokoh-tokoh masyarakat dan keluarga korban guna meredam ketegangan. โKami berupaya menenangkan massa agar jenazah bisa segera dievakuasi ke fasilitas kesehatan,โ tambah Kompol Ketut.
Konflik horizontal antar-desa di wilayah NTT kerap dipicu oleh sengketa lahan, masalah adat, atau dendam lama. Meski aparat berusaha menengahi, ketegangan mudah meledak menjadi kekerasan kolektif. Peristiwa di Adonara Timur ini menjadi pengingat akan kerentanan sosial di daerah-daerah terpencil yang membutuhkan pendekatan resolusi konflik yang lebih mendalam.
Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung: akankah penegakan hukum dan mediasi tokoh adat mampu meredam potensi balas dendam? Atau justru akan muncul siklus kekerasan baru yang menambah panjang daftar korban di tanah Flores?



