Pergantian Menteri Pertahanan Ukraina: Pertarungan Visi Perang Modern vs Tradisional
Baca dalam 60 detik
- Presiden Zelenskyy memberhentikan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov yang dikenal sebagai inovator drone, memicu protes massal di Kyiv.
- Jenderal Yevhen Khmara, pakar operasi khusus, ditunjuk sebagai menteri pertahanan interim, namun pengesahannya terhambat aturan sipil dan reses parlemen.
- Pergantian ini mencerminkan perpecahan mendalam antara militer senior era Soviet dan generasi baru yang mengedepankan teknologi dalam perang melawan Rusia.

Keputusan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk mengganti Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov dengan Mayor Jenderal Yevhen Khmara memicu gelombang protes dan mengungkap perpecahan serius di tubuh militer Ukraina. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya tekanan perang melawan Rusia yang telah berlangsung lebih dari empat tahun, dan menimbulkan pertanyaan tentang arah strategi pertahanan negara tersebut.
Fedorov, yang baru menjabat enam bulan, dikenal sebagai motor pengembangan teknologi drone Ukraina yang sukses menghantam sasaran Rusia. Namun, hubungannya dengan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Oleksandr Syrskyiโyang memulai karier militernya di era Sovietโdilaporkan memburuk. Zelenskyy menyatakan bahwa ketegangan ini membuat posisi Fedorov tidak dapat dipertahankan. Ribuan warga turun ke jalan di Kyiv dan kota-kota lain untuk menuntut Fedorov kembali, dengan spanduk bertuliskan, "Jangan rusak sesuatu yang berhasil."
Khmara, yang sebelumnya memimpin dinas keamanan SBU dan unit elit Alpha, ditunjuk sebagai menteri pertahanan interim. Ia dikenal sebagai arsitek Operasi Spiderweb, salah satu serangan paling spektakuler Ukraina yang menghantam pangkalan udara Rusia tahun lalu. Namun, pengangkatannya menghadapi kendala hukum: undang-undang Ukraina mensyaratkan menteri pertahanan adalah warga sipil, sehingga Khmara harus meninggalkan dinas aktif. Selain itu, parlemen sedang reses musim panas hingga pertengahan Agustus, sehingga proses konfirmasi formal tertunda.
Protes yang berlangsung pada Kamis dan Jumat menunjukkan dukungan luas terhadap Fedorov. Seorang pengunjuk rasa, Olha Horoshkova, mengutip ayahnya yang bertugas sejak 2022, mengatakan bahwa di bawah Fedorov birokrasi berkurang dan keadaan menjadi lebih mudah. Pengunjuk rasa lain, Yehor Pohrebniak, menilai visi perang Syrskyi sudah ketinggalan zaman karena perang berubah sangat cepat dan membutuhkan solusi teknologi yang lebih canggih.
Sementara itu, Rusia dan Ukraina terus saling melancarkan serangan jarak jauh. Serangan rudal Rusia di Odesa menewaskan dua warga sipil dan melukai sepuluh lainnya, termasuk anak-anak. Di Zaporizhzhia, dua orang tewas dan lima luka-luka. Ukraina juga melaporkan penghancuran 243 drone Rusia dalam semalam, sementara pasukan Ukraina mengklaim telah menyerang 12 kapal Rusia di Laut Hitam dan menghancurkan satu pembom strategis Tu-95 di Engels, sekitar 800 kilometer dari perbatasan.
Bagi Indonesia, konflik ini memberikan pelajaran tentang pentingnya adaptasi teknologi militer dan manajemen sumber daya manusia di sektor pertahanan. Pergantian pejabat di tengah perang menunjukkan betapa krusialnya keseimbangan antara inovasi dan pengalaman. Ke depannya, Ukraina harus memastikan transisi kepemimpinan tidak mengganggu momentum militer yang telah dibangun, sementara dunia menyaksikan apakah langkah Zelenskyy ini akan memperkuat atau justru melemahkan posisi Ukraina dalam perang melawan Rusia.



