Bentrok Lahan Ulayat di Flores Timur: Satu Tewas, Belasan Rumah Ludes Terbakar
Baca dalam 60 detik
- Konflik agraria antara dua desa di Adonara Timur kembali memanas, menewaskan satu orang dan melukai empat lainnya.
- Belasan bangunan termasuk rumah dan apotek hangus terbakar, disertai ledakan bom rakitan yang memicu kepanikan warga.
- Insiden ini terjadi hanya beberapa pekan setelah pemusnahan senjata rakitan sebagai simbol perdamaian, menunjukkan kerapuhan rekonsiliasi.

Bentrokan bersenjata antara warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (18/7) pagi, merenggut satu korban jiwa dan melukai empat orang lainnya. Sengketa lahan ulayat yang sudah mengakar puluhan tahun itu kembali memicu aksi saling serang dengan senjata tajam dan bom rakitan, mengakibatkan belasan bangunan hangus terbakar.
Kepala Puskesmas Ile Boleng, Stefanus Ola Bura, mengonfirmasi bahwa satu pasien dinyatakan meninggal dunia, sementara tiga perempuan masih dirawat dengan luka sabetan senjata tajam yang cukup serius. "Kondisinya kemungkinan akan kami rujuk karena luka yang cukup serius," ujarnya. Total empat pasien yang masuk ke puskesmas, termasuk satu korban tewas.
Selain korban jiwa, amuk massa juga menghanguskan sedikitnya 12 bangunan yang terdiri dari rumah tinggal, kios, dan apotek. Puing-puing berserakan di perbatasan kedua desa, menjadi saksi bisu eskalasi konflik yang sempat mereda. Saksi mata, Azhari, menuturkan bahwa ledakan keras terdengar beberapa kali sebelum api membesar, memaksa warga menyelamatkan diri ke arah perkebunan. Ledakan itu diduga berasal dari bom rakitan yang digunakan dalam pertikaian.
Peristiwa ini terjadi hanya beberapa minggu setelah aparat keamanan memusnahkan ratusan senjata api rakitan milik warga pada awal Juli lalu sebagai simbol perdamaian. Mediasi yang digagas pemerintah daerah diharapkan mampu menjadi penengah, namun nyatanya api permusuhan belum sepenuhnya padam di akar rumput. Konflik lahan ulayat di Flores Timur memang sudah berlangsung turun-temurun, seringkali dipicu oleh batas wilayah yang tidak jelas dan klaim kepemilikan yang tumpang tindih.
Akibat insiden ini, arus lalu lintas di Jalan Trans Adonara lumpuh total karena dijadikan medan pertempuran. Warga dari kedua desa saling berhadapan, memblokir akses jalan dan melemparkan benda-benda berbahaya. Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra, melalui Kasi Humas AKP Eliezer A. Kalelado, mengimbau warga tetap tenang dan tidak terprovokasi isu yang belum jelas kebenarannya. "Percayakan penanganan sepenuhnya kepada Polres Flores Timur. Mari kita jaga persaudaraan, saling menghormati, dan bersama-sama mewujudkan Flores Timur yang aman, damai, dan kondusif," ujar AKP Eliezer.
Konflik agraria di NTT bukanlah hal baru. Data Kementerian Agraria dan Tata Ruang mencatat ribuan kasus sengketa lahan di provinsi tersebut, dengan penyelesaian yang kerap berlarut-larut. Bentrokan di Adonara Timur menjadi pengingat bahwa tanpa penyelesaian akar masalahโyakni kepastian hukum atas tanah ulayatโkekerasan dapat kembali meletus kapan saja. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah aparat dan pemerintah daerah mampu memutus siklus dendam ini sebelum jatuh korban lebih banyak?



