S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia di BBB, IHSG Langsung Menguat
Baca dalam 60 detik
- S&P Global Ratings mengonfirmasi sovereign credit rating Indonesia di BBB dengan outlook stabil, sejalan ekspektasi pasar.
- Keputusan ini menjadi angin segar di tengah tekanan eksternal, namun pelaku pasar masih menanti penilaian Moody's dan Fitch.
- Penguatan IHSG pasca-umumkan rating menunjukkan sentimen positif investor, tapi pemerintah harus tetap waspada terhadap defisit APBN.

S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook stabil. Keputusan yang diumumkan pada Senin (13/7/2026) itu langsung mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat di akhir perdagangan, menandakan respons positif dari pelaku pasar.
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menilai langkah S&P sejalan dengan ekspektasi pasar. "Outlook stabil menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global," ujarnya dalam program Squawk Box CNBC Indonesia, Selasa (14/7/2026). Menurutnya, keputusan ini menjadi kabar baik di tengah derasnya sentimen negatif yang menghampiri pasar keuangan Tanah Air.
Meski demikian, pelaku pasar tidak bisa bernapas lega sepenuhnya. Perhatian kini beralih ke dua lembaga pemeringkat lainnya: Moody's dan Fitch Ratings. Keduanya dijadwalkan mengeluarkan penilaian dalam waktu dekat, dan hasilnya akan menjadi ujian selanjutnya bagi pasar saham Indonesia. Salah satu isu krusial yang menjadi sorotan adalah pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama terkait defisit yang cenderung melebar.
Di sisi lain, penilaian MSCI juga menjadi perhatian. Lembaga ini mendorong keterbukaan data saham di bursa Indonesia. Otoritas bursa dituntut konsisten dalam mengungkapkan data agar posisi Indonesia tetap baik di mata lembaga pemeringkat internasional. Rudiyanto menambahkan, "Konsistensi regulasi dan transparansi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor."
Bagi investor Indonesia, keputusan S&P memberikan sedikit ruang bernapas di tengah volatilitas global. Namun, tantangan ke depan tetap berat. Pemerintah harus mampu menjaga disiplin fiskal, terutama mengendalikan defisit APBN, agar penilaian Moody's dan Fitch tidak mengecewakan. Jika tidak, bukan tidak mungkin IHSG kembali tertekan dalam waktu dekat.
Pasar kini menanti langkah selanjutnya dari pemerintah dan Bank Indonesia. Akankah defisit APBN bisa ditekan tanpa mengorbankan pertumbuhan? Atau justru sebaliknya, tekanan fiskal akan semakin membebani peringkat kredit Indonesia? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.



