BSKDN Dorong Mahasiswa KKN Uncen Gali Potensi Lokal untuk Pembangunan Berkelanjutan di Yapen
Baca dalam 60 detik
- Kepala BSKDN Yusharto Huntoyungo meminta mahasiswa KKN Uncen mengembangkan inovasi berbasis kearifan lokal di Kepulauan Yapen.
- Kabupaten Yapen memiliki potensi perikanan, pertanian, pariwisata, dan budaya yang perlu dikelola kreatif tanpa meninggalkan nilai tradisi.
- Keberhasilan pembangunan daerah dinilai tidak hanya bergantung pada anggaran, tetapi juga pada kualitas SDM yang mampu berinovasi sesuai karakter wilayah.

Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri, Yusharto Huntoyungo, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Cenderawasih (Uncen) untuk menciptakan inovasi yang berakar pada kearifan lokal guna mempercepat pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua.
Dalam sambutannya pada kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal dan Penguatan Ekonomi Kreatif di Auditorium Uncen, Jayapura, Kamis (16/7), Yusharto menekankan bahwa potensi masyarakat setempat akan memberikan dampak lebih besar jika dikembangkan melalui pendekatan inovatif yang melibatkan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas adat. Ia menilai kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan modal sosial yang dapat menjadi fondasi bagi inovasi daerah yang relevan.
Yusharto menjelaskan, Kabupaten Kepulauan Yapen menyimpan beragam potensi yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi baru. Mulai dari sektor perikanan tangkap dan budidaya, pertanian lahan kering, pariwisata bahari, hingga kekayaan budaya masyarakat adat. Namun, ia mengingatkan agar seluruh potensi tersebut dikelola secara kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang diwariskan turun-temurun. "Kita tidak selalu harus memulai dari sesuatu yang baru. Banyak solusi justru lahir dari kekuatan lokal yang sudah dimiliki masyarakat," ujarnya.
Menurut Yusharto, pelaksanaan KKN bukan hanya pemenuhan kewajiban akademik, melainkan ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dalam menjawab tantangan pembangunan. Ia berharap mahasiswa mampu menggali potensi lokal, mengembangkannya menjadi program pemberdayaan, sekaligus mendorong terciptanya nilai ekonomi yang lebih besar. "Kehadiran mahasiswa harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. KKN menjadi kesempatan untuk melahirkan solusi inovatif, memperkuat pemberdayaan, dan mengoptimalkan potensi lokal sebagai modal pembangunan daerah," tegasnya.
Yusharto menambahkan, keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau infrastruktur fisik, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang mampu menciptakan inovasi sesuai karakteristik wilayah. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah daerah dalam memperkuat kapasitas masyarakat melalui riset, pengabdian, dan inovasi. Mahasiswa KKN juga diharapkan meninggalkan praktik-praktik baik yang dapat dilanjutkan oleh masyarakat dan pemerintah setempat setelah program berakhir.
Dengan pendekatan berbasis kearifan lokal, diharapkan manfaat pengabdian tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana inovasi mahasiswa KKN Uncen mampu mengangkat potensi Yapen menjadi motor ekonomi baru yang inklusif dan ramah budaya?



