Meta dan Anthropic Dikabarkan Nego Sewa Komputasi Rp 160 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Meta Platforms tengah merundingkan kesepakatan senilai hingga US$10 miliar untuk menyewakan daya komputasi ke pengembang AI Anthropic.
- Langkah ini menjadi strategi Meta untuk mendiversifikasi pendapatan di luar iklan, sekaligus bersaing dengan penyedia cloud khusus seperti CoreWeave.
- Kesepakatan masih dalam tahap awal dan bisa batal, namun menandai pergeseran model bisnis raksasa teknologi ke arah infrastruktur AI.

Meta Platforms dikabarkan sedang menjajaki perjanjian penyewaan daya komputasi bernilai hingga US$10 miliar (sekitar Rp 160 triliun) dengan Anthropic, perusahaan di balik model kecerdasan buatan Claude. Kesepakatan yang berdurasi dua tahun ini, jika terwujud, akan menjadi salah satu kontrak komputasi terbesar di industri dan menandai langkah agresif Meta untuk keluar dari ketergantungan pada pendapatan iklan.
Menurut laporan New York Times yang mengutip tiga sumber yang mengetahui negosiasi, Anthropicโyang tengah bersiap melantai di bursaโpertama kali mengajukan proposal pada Juni lalu. Pembayaran direncanakan secara bulanan, namun kedua pihak memiliki opsi untuk membatalkan perjanjian lebih awal. Meski demikian, diskusi masih berada pada tahap awal dan belum ada jaminan kesepakatan akan tercapai.
Bagi Meta, langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi yang sudah lama digaungkan. Dalam rapat pemegang saham Mei lalu, CEO Mark Zuckerberg menyebut bahwa masuk ke bisnis komputasi awan "pasti ada di atas meja." Ia mengungkapkan bahwa hampir setiap pekan ada perusahaan yang mendekati Meta untuk membeli akses ke model AI atau daya komputasi cadangan mereka. Bloomberg sebelumnya juga melaporkan bahwa Meta sedang membangun unit bisnis cloud untuk menjual kelebihan kapasitas komputasi dan menjadi tuan rumah bagi model AI pengembang lain.
Kesepakatan serupa sebenarnya sudah dijalin Anthropic dengan SpaceX milik Elon Musk pada Mei lalu, di mana Anthropic memanfaatkan penuh pusat data Colossus 1 di Memphis, Tennessee. Pola ini menunjukkan bahwa perusahaan AI skala besar semakin bergantung pada infrastruktur komputasi raksasa, sementara penyedia tradisional seperti Amazon Web Services dan Microsoft Azure mulai menghadapi persaingan dari "neocloud" seperti CoreWeave dan Nebius yang fokus pada beban kerja AI.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat adopsi AI di Tanah Air terus meningkat. Perusahaan rintisan dan korporasi lokal mulai mengandalkan model bahasa besar untuk layanan pelanggan, analitik, dan otomatisasi. Jika Meta berhasil memonetisasi infrastrukturnya, bukan tidak mungkin raksasa teknologi lain seperti Google atau Microsoft akan mengikuti jejak serupa, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi harga dan aksesibilitas daya komputasi di pasar Asia Tenggara.
Namun, tantangan tetap ada. Meta belum memiliki pengalaman menjual daya komputasi secara komersial, dan negosiasi dengan Anthropic disebut rumit karena ketiadaan lini bisnis tersebut. Analis memperkirakan bahwa jika kesepakatan ini batal, Meta mungkin perlu mengakuisisi atau bermitra dengan penyedia cloud yang sudah mapan untuk mempercepat masuknya ke pasar. Pertanyaan selanjutnya: apakah Meta akan menjadi pemain utama di infrastruktur AI, atau justru kalah cepat dari para pendatang baru yang lebih gesit?



