PIF Saudi Segera Kantongi Restu UE untuk Akuisisi Electronic Arts Senilai Rp 890 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Investor yang dipimpin Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) dipastikan lolos tahap awal penyelidikan Uni Eropa atas akuisisi Electronic Arts senilai US$55 miliar.
- Kesepakatan ini menjadi uji perdana aturan subsidi asing baru UE yang dirancang membendung pengaruh negara non-anggota dalam merger strategis.
- Jika rampung, akuisisi terbesar dalam sejarah leveraged buyout ini akan memperkuat posisi Saudi sebagai pusat game global sekaligus mempercepat diversifikasi ekonomi kerajaan.

Uni Eropa dipastikan akan memberikan lampu hijau bagi konsorsium yang dipimpin Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) untuk mengakuisisi pengembang gim raksasa Electronic Arts (EA) senilai US$55 miliar—setara Rp 890 triliun. Keputusan ini menjadi tonggak penting bagi ambisi Saudi menguasai industri hiburan digital global sekaligus ujian perdana bagi aturan subsidi asing baru blok tersebut.
Konsorsium yang terdiri dari PIF, Affinity Partners milik Jared Kushner, dan perusahaan ekuitas swasta Silver Lake mengumumkan kesepakatan itu pada September tahun lalu. Akuisisi ini tercatat sebagai leveraged buyout terbesar dalam sejarah, mengalahkan rekor pembelian TXU Energy pada 2007. Langkah ini menandai ekspansi agresif PIF di luar sektor energi, menargetkan industri gim dan olahraga sebagai pilar baru ekonomi pasca-minyak.
Komisi Eropa, yang bertindak sebagai pengawas persaingan usaha, diperkirakan akan menyetujui transaksi tersebut setelah pemeriksaan pendahuluan berdasarkan Foreign Subsidies Regulation (FSR) berakhir pada 30 Juli. Sumber yang mengetahui langsung proses tersebut mengatakan bahwa tidak ada hambatan berarti yang ditemukan. Selain itu, kesepakatan juga diyakini akan lolos tanpa syarat dari aturan merger reguler UE yang masa reviu awalnya berakhir pada 22 Juli.
FSR merupakan instrumen baru UE yang mulai berlaku penuh pada Juli 2023 untuk mencegah perusahaan non-UE memanfaatkan subsidi asing yang tidak adil saat mengakuisisi pesaing di kawasan 27 negara tersebut. Berbeda dengan dua kasus sebelumnya—akuisisi Covestro oleh ADNOC (Uni Emirat Arab) dan tawaran e& atas PPF Ceko—yang harus melalui penyelidikan berlarut dan pengajuan konsesi, kasus EA dipandang lebih bersih. Analis menilai hal ini karena EA tidak memiliki aset strategis yang sensitif secara politik di Eropa, berbeda dengan perusahaan kimia dan telekomunikasi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa pesan penting. Pertama, menunjukkan bahwa aturan subsidi asing UE semakin ketat dan dapat memengaruhi perusahaan Indonesia yang berniat berekspansi ke Eropa melalui akuisisi. Kedua, keberhasilan PIF membuka jalan bagi dana kekayaan negara lain, termasuk Indonesia melalui Indonesia Investment Authority (INA), untuk lebih agresif di sektor digital global. Namun, INA perlu mencermati kepatuhan terhadap regulasi asing agar tidak terjebak dalam proses panjang seperti yang dialami ADNOC.
Kesepakatan ini juga menegaskan bahwa industri gim tetap menjadi ladang investasi yang menarik meskipun sektor tersebut baru pulih dari kemerosotan berkepanjangan. EA, dengan waralaba seperti FIFA, Madden NFL, dan The Sims, dinilai memiliki nilai jangka panjang yang kokoh. PIF sendiri telah mengakuisisi saham di sejumlah perusahaan gim terkemuka, termasuk Nintendo dan Activision Blizzard, sebagai bagian dari strategi menjadikan Saudi sebagai pusat gim global.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Komisi Eropa memberikan persetujuan penuh tanpa syarat, atau justru meminta konsesi di menit-menit akhir? Keputusan akhir pada akhir Juli akan menjadi preseden bagi akuisisi besar berikutnya yang melibatkan dana negara dari kawasan Teluk.



