Bank of America Percepat Transformasi AI di Pasar Global, Tunjuk Eksekutif Senior Baru
Baca dalam 60 detik
- Bank of America menunjuk Kevin Milsom sebagai kepala transformasi AI platform dan Sonali Theisen sebagai kepala platform aset digital global.
- Langkah ini merupakan bagian dari strategi investasi miliaran dolar untuk meningkatkan produktivitas bankir dan pendapatan melalui AI.
- Pengangkatan ini mencerminkan persaingan ketat di sektor perbankan global dalam adopsi AI, yang berimplikasi pada efisiensi dan layanan di Indonesia.

Bank of America (BofA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI) dengan menunjuk sejumlah eksekutif senior untuk memimpin transformasi digital di divisi pasar globalnya. Langkah ini diumumkan melalui memo internal yang beredar pada Jumat lalu, menandai babak baru dalam strategi teknologi bank terbesar kedua di Amerika Serikat tersebut.
Dalam memo yang ditandatangani Ashok Krishnan, kepala platform di kelompok pasar global, BofA menunjuk Kevin Milsom sebagai kepala transformasi AI untuk platform. Milsom akan bertanggung jawab mengintegrasikan teknologi AI, termasuk generative AI, ke dalam sistem perdagangan dan operasional bank. Sementara itu, Sonali Theisen mendapat mandat tambahan sebagai kepala platform aset digital global, di samping perannya saat ini sebagai kepala perdagangan elektronik FICC (Fixed Income, Currencies, and Commodities) dan investasi strategis pasar.
Keputusan ini memperkuat posisi BofA sebagai salah satu pionir adopsi AI di sektor perbankan. Sebelumnya, chief technology officer BofA mengungkapkan bahwa bank mengalokasikan dana miliaran dolar untuk teknologi AI guna meningkatkan produktivitas para bankir dan mendongkrak pendapatan. Langkah serupa juga dilakukan oleh pesaing seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs, yang telah meluncurkan inisiatif AI serupa.
Penunjukan Amy Avery dan tim AMI ke dalam grup platform global juga menjadi sorotan. Tim ini akan bertanggung jawab menyediakan wawasan berbasis data di seluruh perusahaan, memperkuat kemampuan analitik BofA dalam mengelola risiko dan mengidentifikasi peluang pasar. Langkah ini sejalan dengan tren industri perbankan yang semakin mengandalkan data besar dan AI untuk pengambilan keputusan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi signifikan. Bank-bank nasional seperti Bank Mandiri, BCA, dan BRI tengah berlomba mengadopsi AI untuk meningkatkan layanan dan efisiensi. Investasi besar BofA menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan strategis untuk bersaing di pasar global. Indonesia, dengan ekosistem digital yang berkembang pesat, berpotensi menjadi pasar bagi solusi AI perbankan yang lebih canggih, baik dari segi manajemen risiko, deteksi penipuan, maupun personalisasi layanan.
Menurut analis industri, langkah BofA juga mencerminkan pergeseran prioritas di sektor keuangan: dari sekadar otomatisasi proses menuju transformasi bisnis yang didorong AI. โBank tidak lagi hanya menggunakan AI untuk mengurangi biaya, tetapi untuk menciptakan sumber pendapatan baru melalui produk dan layanan yang lebih cerdas,โ ujar seorang pengamat perbankan yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, persaingan adopsi AI di sektor perbankan diprediksi semakin ketat. Pertanyaannya, mampukah bank-bank di Indonesia mengejar ketertinggalan dan memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan daya saing di kawasan?



