Prabowo Percepat Program Replanting Tebu, Target 30 Pabrik Bioetanol Baru
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo memerintahkan Kementerian Pertanian menyelesaikan replanting tebu dalam dua tahun, lebih cepat dari target awal empat tahun.
- Pemerintah menargetkan pembangunan 30 pabrik bioetanol baru untuk mendukung program pencampuran etanol pada bensin non-subsidi.
- Indonesia berencana menerapkan campuran etanol 5% di Jawa pada 2026-2027 dan meningkat menjadi 10% pada 2028, mengurangi impor energi.

Presiden Prabowo Subianto menetapkan target ambisius untuk meningkatkan produksi tebu dan bioetanol nasional, dengan memangkas waktu program replanting tebu dari empat tahun menjadi dua tahun. Langkah ini merupakan bagian dari strategi energi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan impor energi.
Dalam pernyataan di Jakarta, Jumat (17/7), Kepala Negara menginstruksikan Kementerian Pertanian untuk mempercepat program penanaman ulang tebu di lahan seluas sekitar 540.000 hektare, sebagaimana data Kementerian Pertanian pada 2025. Percepatan ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan bahan baku gula dan bioetanol secara signifikan.
Selain replanting, Prabowo juga menargetkan pembangunan sedikitnya 30 pabrik bioetanol baru. Pabrik-pabrik ini akan memproduksi etanol yang cukup untuk mendukung program bahan bakar campuran etanol (ethanol-blended fuel). Pemerintah berencana mencampurkan bensin non-subsidi dengan minimal 5% etanol di Pulau Jawa pada periode 2026-2027, dan meningkatkan proporsinya menjadi 10% pada 2028.
Kebijakan ini memiliki implikasi luas bagi Indonesia. Di sektor pertanian, percepatan replanting dapat meningkatkan produktivitas tebu dan pendapatan petani. Di sektor energi, pengembangan bioetanol berpotensi mengurangi impor bahan bakar minyak, memperbaiki neraca perdagangan, dan mendukung target bauran energi terbarukan nasional. Namun, tantangan seperti pendanaan, alih fungsi lahan, dan infrastruktur distribusi etanol perlu diantisipasi.
Menurut pengamat energi dari Universitas Indonesia, program ini sejalan dengan tren global menuju energi hijau, tetapi keberhasilannya bergantung pada konsistensi kebijakan dan insentif bagi investor. Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi produsen bioetanol utama di Asia Tenggara jika didukung oleh regulasi yang stabil dan investasi teknologi.
Ke depan, pertanyaan krusial adalah apakah percepatan replanting dan pembangunan pabrik dapat berjalan sesuai jadwal tanpa mengorbankan keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan petani. Pemerintah perlu memastikan bahwa program ini tidak hanya mengejar target produksi, tetapi juga memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.



