Bocah SD Boyolali Temukan Celah Keamanan Situs NASA, Dapat Surat Apresiasi
Baca dalam 60 detik
- Ibrahim Al Abrar, siswa SD di Boyolali, berhasil menemukan kerentanan broken link hijacking di domain publik NASA dan melaporkannya melalui program VDP.
- Temuan Ibra diverifikasi NASA dan ia mendapat Letters of Recognition, sebuah pengakuan resmi yang hanya diberikan untuk laporan prioritas tinggi.
- Kisah Ibra menunjukkan potensi besar talenta keamanan siber Indonesia sejak usia dini, sekaligus membuka peluang bagi anak muda untuk berkontribusi di tingkat global.

Seorang siswa kelas 6 SD asal Boyolali, Jawa Tengah, berhasil menembus pertahanan digital milik badan antariksa Amerika Serikat, NASA—bukan dengan roket, melainkan melalui celah keamanan di situs publik mereka. Ibrahim Al Abrar, 12 tahun, mendapat surat apresiasi resmi dari NASA setelah melaporkan kerentanan yang ia temukan pada sistem domain lembaga tersebut.
Ibra, sapaan akrabnya, melaporkan temuan itu melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) NASA pada pertengahan 2026. Setelah melalui proses verifikasi, NASA mengirimkan Letters of Recognition (LOR) tertanggal 9 Juli 2026. Surat itu menjadi bukti bahwa laporan Ibra dianggap valid dan telah membantu meningkatkan keamanan siber lembaga antariksa paling bergengsi di dunia.
Menurut penuturan sang ayah, Aminudin, Ibra menemukan celah berupa broken link hijacking—sebuah kerentanan yang memungkinkan peretas mengambil alih tautan yang rusak untuk tujuan jahat. "Kemarin bisa dapat sertifikat NASA itu karena nyari kerentanan di web NASA. Menemukan broken link hijacking. Terus dilaporkan lewat VDP," ujar Aminudin, yang berprofesi sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan di SMKN Kemusu.
Ibra mengaku mulai tertarik pada keamanan siber sejak awal 2026, setelah sebelumnya belajar membuat game secara otodidak. Ia terinspirasi dari berita-berita tentang peretas etis yang berhasil mengungkap celah di sistem NASA. Meski sempat kesulitan memahami materi, ia terus belajar melalui tutorial YouTube dan bantuan kecerdasan buatan. "Cybersecurity itu dapat saran-saran kakak-kakak online," kata Ibra.
Keberhasilan Ibra menjadi sorotan karena usianya yang masih belia. Di Indonesia, minat terhadap keamanan siber di kalangan pelajar memang terus tumbuh, namun temuan yang diakui lembaga sekelas NASA masih terbilang langka. Program VDP NASA sendiri dirancang untuk menjaring laporan dari peneliti independen di seluruh dunia. Dalam laman resminya, NASA menyatakan, "Kami menyadari bahwa kerentanan eksternal dapat ditemukan oleh siapa pun kapan saja, dan kebijakan ini memberikan pedoman yang jelas kepada peneliti keamanan."
Kisah Ibra juga membuka diskusi tentang potensi besar talenta digital Indonesia. Di tengah gencarnya transformasi digital, negara ini masih kekurangan tenaga ahli keamanan siber. Menurut data BSSN, kebutuhan profesional siber di Indonesia mencapai puluhan ribu orang setiap tahunnya. Temuan Ibra membuktikan bahwa bakat bisa muncul dari daerah mana pun, asalkan ada akses dan motivasi.
Aminudin berharap prestasi anaknya bisa memotivasi generasi muda lain yang tertarik pada teknologi. "Belajar sekarang semakin dimudahkan dengan kemajuan teknologi informasi," ujarnya. Ibra sendiri mengaku akan terus mendalami keamanan siber dan bercita-cita menjadi ahli di bidang tersebut.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Ibra akan menjadi peretas etis andalan Indonesia, tetapi sejauh mana ekosistem pendidikan dan industri di Tanah Air mampu menampung dan mengembangkan bakat-bakat semacam ini. Apakah akan ada lebih banyak lagi Ibrahim-Ibrahim lain yang siap mengamankan ruang siber nasional?



