Iheanacho Tolak Perpanjangan Kontrak Celtic, Pilih Klub Kasta Kedua Turki
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Nigeria Kelechi Iheanacho memilih bergabung dengan Bursaspor yang baru promosi ke Liga Dua Turki, menolak tawaran baru dari Celtic.
- Keputusan ini memperkuat kesulitan Celtic di bursa transfer musim panas, di mana mereka hanya merekrut satu pemain dan bersaing dengan klub Championship Inggris yang royal belanja.
- Langkah Iheanacho menandai tren pemain memilih tantangan di liga non-unggulan, sekaligus menjadi sinyal bagi klub Indonesia untuk lebih agresif di pasar pemain bebas.

Penyerang tim nasional Nigeria, Kelechi Iheanacho, secara mengejutkan memutuskan menolak perpanjangan kontrak dari Celtic dan memilih bergabung dengan Bursaspor, klub yang baru saja promosi ke kasta kedua Liga Turki. Keputusan ini mengakhiri spekulasi masa depan pemain berusia 29 tahun itu setelah musim yang diwarnai cedera namun tetap produktif.
Celtic, juara bertahan Liga Skotlandia, telah menyodorkan kontrak baru kepada Iheanacho setelah ia berkontribusi membawa tim meraih gelar ganda domestik musim lalu. Namun, Bursaspor—yang musim lalu menjuarai TFF Second League—bergerak cepat mengumumkan perekrutan Iheanacho dan memperkenalkannya dengan atribut khas hijau-putih mereka. Langkah ini diambil sehari setelah CEO Celtic, Michael Nicholson, mengakui bahwa bursa transfer musim panas ini "sulit" karena harus bersaing dengan klub-klub kaya dari Championship Inggris.
Bagi Celtic, kepergian Iheanacho menambah daftar panjang masalah di lini depan. Hingga saat ini, mereka baru merekrut satu pemain, yakni penyerang Kolombia Camilo Duran dari Qarabag dengan biaya yang tidak diungkapkan. Situasi diperparah oleh ketidakpastian masa depan Daizen Maeda, pemain sayap Jepang yang kontraknya memasuki tahun terakhir. Dengan minimnya opsi penyerang, manajer Celtic harus bekerja ekstra keras untuk menjaga daya saing tim di musim baru.
Iheanacho sendiri bergabung dengan Celtic pada 2025 dari Sevilla sebagai agen bebas. Musim lalu, ia mencatatkan sembilan gol di semua kompetisi, meskipun hanya tampil sebagai starter dalam dua pertandingan setelah Oktober akibat cedera hamstring. Namun, kontribusinya sebagai pemain pengganti sangat vital: enam gol ia cetak dari bangku cadangan saat Celtic memenangkan sembilan pertandingan terakhir mereka untuk mengamankan gelar Liga dan Piala Skotlandia. Catatan ini menunjukkan bahwa Iheanacho tetap memiliki naluri gol yang tajam meski tidak menjadi pilihan utama.
Keputusan Iheanacho memilih Bursaspor ketimbang bertahan di Celtic atau pindah ke klub Eropa lainnya menjadi sorotan. Bursaspor, meski baru promosi, memiliki sejarah sebagai klub besar Turki dengan basis suporter fanatik. Bagi pemain yang ingin mendapatkan menit bermain reguler, langkah ini bisa menjadi pilihan strategis. Namun, dari sisi gengsi dan level kompetisi, kepindahan ini dianggap sebagai penurunan karier.
Fenomena ini juga relevan untuk diamati di Indonesia. Pasar pemain bebas (free agent) semakin menjadi arena perburuan klub-klub Asia, termasuk Indonesia. Jika pemain sekelas Iheanacho—mantan pemain Manchester City dan Leicester City—bersedia bermain di kasta kedua Turki, bukan tidak mungkin pemain berkualitas lain akan melirik Liga Indonesia. Klub-klub Tanah Air perlu lebih jeli memanfaatkan momen ini untuk mendatangkan pemain asing bertalenta dengan biaya lebih terjangkau.
Ke depan, tantangan terbesar Celtic adalah mempertahankan posisi sebagai penguasa Liga Skotlandia di tengah keterbatasan belanja. Sementara itu, Iheanacho akan berusaha membuktikan bahwa keputusannya bukanlah langkah mundur. Pertanyaannya, mampukah Bursaspor memanfaatkan pengalaman Iheanacho untuk segera kembali ke kasta tertinggi?



