Format Piala Dunia ODI 2027 Dikritik: Negara Lemah Terpinggirkan, Pemain Minta Suara Didengar
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Pemain Kriket Dunia (WCA) mengecam format baru Piala Dunia ODI 2027 yang hanya memberi satu dari tiga tim terendah kesempatan lolos ke fase grup.
- Kapten Skotlandia Richie Berrington mendesak pemain dilibatkan dalam pengambilan keputusan besar, menyusul kekhawatiran bahwa format baru menghambat pertumbuhan kriket global.
- Format yang dianggap tidak transparan ini berpotensi mengurangi manfaat komersial dan pengembangan bagi negara-negara emerging, termasuk yang berada di peringkat bawah ODI.

Rencana penyelenggaraan Piala Dunia Kriket 50-over edisi 2027 menuai kontroversi setelah Asosiasi Pemain Kriket Dunia (WCA) menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap format yang dinilai tidak adil bagi negara-negara berkembang. Dalam pernyataan resminya, WCA menegaskan bahwa struktur turnamen yang baru justru mengkhianati semangat ekspansi partisipasi yang sebelumnya digembar-gemborkan.
Turnamen yang akan digelar di Afrika Selatan, Namibia, dan Zimbabwe ini mengawali babak penyisihan dengan 14 tim. Namun, tiga tim dengan peringkat terendah harus bertarung di babak awal yang hanya meloloskan satu tim ke fase grup. Dengan kata lain, dua dari tiga tim tersebut langsung tersingkir tanpa sempat merasakan atmosfer kompetisi penuh. Setelah itu, 12 tim yang tersisa dibagi dalam dua grup berisi enam tim, lalu dilanjutkan ke babak 'super seven' yang menggantikan 'super six', dan akhirnya semifinal.
WCA menilai format ini gagal memanfaatkan peluang ekspansi menjadi 14 tim. โBagi beberapa negara, kualifikasi tidak lagi menjamin kampanye Piala Dunia yang sesungguhnya atau kesempatan bertanding melawan negara-negara mapan,โ tulis WCA dalam pernyataannya. Mereka menambahkan bahwa hal ini mengurangi potensi manfaat olahraga, pengembangan, dan komersial bagi pemain dan pasar kriket yang sedang tumbuh.
Kritik juga datang dari Kapten Skotlandia, Richie Berrington, yang mendesak agar suara pemain didengar dalam setiap keputusan signifikan. โPemain tidak berharap membuat setiap keputusan, tetapi kami harus dikonsultasikan secara bermakna dalam keputusan yang berdampak besar pada karier dan masa depan kriket,โ ujarnya. Menurut Berrington, keputusan yang lebih baik lahir ketika berbagai perspektif dipertemukan.
Di sisi lain, Dewan Kriket Internasional (ICC) membela format baru dengan alasan menciptakan โkonteks, daya saing, dan konsekuensi yang lebih besarโ selama turnamen. Namun, pernyataan itu belum cukup meredam kekhawatiran. CEO WCA, Tom Moffat, secara tajam mempertanyakan konsistensi ICC: โSulit menyelaraskan ambisi yang dinyatakan untuk mengembangkan kriket global dengan keputusan yang justru mengurangi peluang berarti di ajang puncak bagi negara-negara yang paling diuntungkan dari ekspansi sejati.โ
Bagi Indonesia, meskipun kriket belum menjadi olahraga arus utama, format Piala Dunia ini tetap relevan. Sebagai negara yang tengah mengembangkan kriket di bawah naungan Persatuan Cricket Indonesia (PCI), keputusan ICC dapat mempengaruhi peluang tim nasional untuk tampil di ajang bergengsi di masa depan. Jika negara-negara kecil terus dipinggirkan, mimpi Indonesia untuk berlaga di Piala Dunia kriket bisa semakin jauh.
Ke depan, pertanyaan besar menggantung: akankah ICC bersedia meninjau kembali format ini demi menjamin pertumbuhan kriket yang inklusif? Ataukah kepentingan komersial dan rating televisi akan terus mendominasi? Jawabannya akan menentukan apakah kriket benar-benar siap menjadi olahraga global yang setara.



