Legenda Judo Jepang Isamu Sonoda Tutup Usia, Pelatih Emas Olimpiade Ryoko Tani
Baca dalam 60 detik
- Isamu Sonoda, peraih medali emas Olimpiade Montreal 1976, meninggal dunia pada usia 79 tahun akibat pneumonia.
- Ia dikenal sebagai pelatih yang mengantarkan Ryoko Tani meraih emas Olimpiade Sydney 2000 dan Athena 2004.
- Sonoda juga berjasa membawa Kie Kusakabe meraih perunggu di Olimpiade Sydney 2000.

Dunia judo Jepang kembali berduka. Isamu Sonoda, peraih medali emas Olimpiade Montreal 1976 yang kemudian menjadi pelatih legendaris Ryoko Tani, meninggal dunia akibat pneumonia pada Kamis lalu di usia 79 tahun.
Lahir di Prefektur Fukuoka, Sonoda menorehkan prestasi gemilang sejak masih menjadi mahasiswa. Ia merebut gelar juara dunia kelas menengah (80 kilogram) pada 1969, sebelum puncak kariernya tiba tujuh tahun kemudian di Olimpiade Montreal. Di Kanada, ia mengandalkan teknik lemparan paha bagian dalam (inner-thigh throw) yang mematikan untuk mengalahkan lawan-lawannya.
Perjalanan Sonoda menuju emas Olimpiade tidaklah mudah. Ia harus melewati kualifikasi domestik Jepang yang sangat ketat, termasuk mengalahkan juara dunia tiga kali. Di partai final, ia berhasil menundukkan Valeri Dvoinikov dari Uni Soviet.
Setelah pensiun sebagai atlet, Sonoda beralih menjadi pelatih. Namanya semakin harum ketika ia membimbing Ryoko Tani, judoka mungil yang kemudian menjadi ikon olahraga Jepang. Sonoda melatih Tani sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar, dan berhasil mengantarkannya meraih medali emas Olimpiade pertama di kelas 48 kilogram putri pada Olimpiade Sydney 2000. Empat tahun kemudian, Tani kembali meraih emas di Athena, sekali lagi di bawah arahan Sonoda.
Tak hanya Tani, Sonoda juga berperan dalam kesuksesan Kie Kusakabe yang meraih medali perunggu di kelas 57 kilogram putri pada Olimpiade Sydney 2000. Dedikasinya terhadap dunia judo tidak pernah pudar hingga akhir hayatnya.
Kepergian Sonoda meninggalkan jejak panjang dalam sejarah judo Jepang. Ia tidak hanya dikenang sebagai atlet berprestasi, tetapi juga sebagai pelatih yang mampu mencetak generasi penerus. Bagi Indonesia, kisah Sonoda menjadi inspirasi tentang pentingnya pembinaan atlet sejak dini dan peran pelatih dalam mengorbitkan bakat muda. Pertanyaan yang kini mengemuka: siapa yang akan meneruskan warisan dedikasi dan prestasi Sonoda di masa depan?



