Kebingungan Taktik Wales: Duet Tengah Thomas-Llewellyn Kembali Diuji Lawan Afrika Selatan
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Wales Steve Tandy kembali memasang duet Ben Thomas dan Max Llewellyn di lini tengah untuk laga Nations Championship melawan Afrika Selatan, setelah 12 pertandingan dan lima kombinasi berbeda dicoba.
- Pertahanan Wales dinilai rapuh setelah kebobolan 38 peluang bersih dalam dua laga awal turnamen, memicu kritik dari mantan pemain seperti Jonathan Davies.
- Keputusan rotasi pemain nomor 10 juga disorot; Gareth Anscombe memperingatkan bahwa pergantian konstan menghambat konsistensi pengambilan keputusan di lapangan.

Pelatih kepala Wales, Steve Tandy, kembali ke titik awal saat memilih duet Ben Thomas dan Max Llewellyn di lini tengah untuk laga Nations Championship melawan Afrika Selatan, Sabtu mendatang di Durban. Keputusan ini menandai kali kelima Tandy mengganti pasangan centre sejak menjabat musim panas lalu, menunjukkan kegelisahan dalam mencari formula tepat di sektor vital tersebut.
Setelah 12 pertandingan, Tandy sempat mengandalkan duet Scarlets, Joe Hawkins dan Eddie James, yang tampil dalam tujuh laga beruntun. Namun, penampilan kurang meyakinkan melawan Fiji dan Argentina pada dua ronde awal Nations Championship—dengan 38 peluang bersih yang diberikan—membuat pelatih asal Wales itu kembali memilih Thomas dan Llewellyn, duet yang menjadi andalan di dua laga perdananya melawan Argentina dan Jepang.
Mantan centre Wales dan Lions, Jonathan Davies, meragukan pilihan tersebut. "Duet tengah mungkin tidak sehebat yang diharapkan setelah akhir Six Nations," ujarnya dalam program Scrum V The Warm Up. "Ada beberapa tekel yang meleset dan celah di pertahanan. Tim lawan dengan mudah mendapatkan terobosan." Davies menyarankan agar Eddie James dimainkan sebagai inside centre (nomor 12) dan Llewellyn di posisi 13, memanfaatkan kemampuan distribusi bola James yang belum maksimal.
Masalah Wales tak hanya di lini tengah. Rotasi pemain nomor 10 juga menjadi sorotan. Dan Edwards kembali dipercaya setelah Sam Costelow tampil melawan Argentina. Mantan fly-half Wales, Gareth Anscombe, mengkritik kebijakan rotasi tersebut. "Yang perlu diwaspadai adalah terlalu sering mengganti. Nomor 10 butuh tiga atau empat pertandingan beruntun untuk membangun ritme," kata Anscombe. "Pekerjaan nomor 10 bukan hanya soal usaha dan sikap, tapi juga pengambilan keputusan dan akurasi. Jika terus diubah, sangat sulit merasakan irama permainan."
Dalam konteks yang lebih luas, kegelisahan Wales ini bisa menjadi pelajaran bagi tim-tim Asia, termasuk Indonesia, yang tengah membangun skuad kompetitif. Stabilitas pemain di posisi kunci seperti playmaker dan centre sangat menentukan konsistensi serangan. Tanpa waktu bermain yang cukup, chemistry antarpemain sulit terbentuk—sebuah tantangan yang juga dihadapi oleh pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, dalam meramu lini tengah Garuda.
Di sisi lain, Afrika Selatan datang dengan duet Jesse Kriel dan Damian de Allende yang sudah matang. Davies menilai Wales seharusnya memanfaatkan laga ini untuk menguji opsi fisik, seperti memainkan Eddie James di 12 dan Llewellyn di 13. Namun, Tandy memilih jalur aman dengan mengembalikan duet yang sudah dikenal. Pertanyaannya, apakah konsistensi atau variasi yang lebih dibutuhkan Wales untuk mengakhiri musim dengan positif?
Wales akan menuntaskan musim dengan formasi Edwards, Thomas, dan Llewellyn di posisi 10-12-13. Tandy punya waktu istirahat hingga November untuk merenungkan kembali pilihannya. Satu hal yang pasti: tanpa perbaikan signifikan di lini tengah, Wales akan kesulitan menghadapi raksasa rugby seperti Springboks.



