Hanoi Dinobatkan sebagai Kota Terramah Kedua di Dunia, Bagaimana dengan Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Ibu kota Vietnam, Hanoi, menempati peringkat kedua dunia dalam keramahan layanan pelanggan versi MoneySuperMarket.
- Edinburgh memuncaki daftar dengan 59% ulasan positif, disusul Hanoi (58,6%) dan Liverpool (58,3%).
- Pencapaian ini menegaskan posisi Asia Tenggara sebagai kawasan ramah, namun belum ada kota Indonesia yang masuk sepuluh besar.

Hanoi, ibu kota Vietnam, baru saja dinobatkan sebagai kota dengan layanan pelanggan paling ramah kedua di dunia, mengalahkan puluhan kota besar Eropa dan Amerika Utara. Dalam survei yang dilakukan oleh situs pembanding harga MoneySuperMarket, Hanoi menjadi satu-satunya perwakilan Asia Tenggara yang berhasil menembus jajaran sepuluh besar.
Peringkat ini disusun berdasarkan analisis lebih dari seribu ulasan pelanggan terhadap restoran, bar, tempat wisata, dan berbagai layanan di 107 kota di seluruh dunia. Edinburgh, ibu kota Skotlandia, memuncaki daftar dengan 59% ulasan yang menyebut staf dan layanannya ramah. Hanoi menyusul di posisi kedua dengan 58,6%, hanya unggul tipis dari Liverpool yang mencatat 58,3%.
Dominasi kota-kota Inggris dalam daftar ini cukup mencolok. Selain Edinburgh dan Liverpool, Birmingham dan Bristol masing-masing menempati peringkat kesembilan dan kesepuluh. Sementara itu, kota-kota seperti Paris (57,5%), Dublin (57,3%), Montreal (56,8%), Wina (55,6%), dan Abu Dhabi (55,3%) melengkapi posisi keempat hingga kedelapan.
Pencapaian Hanoi ini bukanlah kejutan. Vietnam selama beberapa tahun terakhir konsisten masuk dalam daftar sepuluh negara paling ramah di dunia versi berbagai survei pariwisata. Keramahan warga lokal, kesediaan membantu turis, serta budaya senyum yang khas menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong.
Bagi Indonesia, hasil survei ini menjadi pengingat sekaligus tantangan. Meskipun keramahan masyarakat Indonesia kerap dipuji dalam berbagai forum internasional, belum ada satu kota pun di Tanah Air yang berhasil masuk dalam jajaran sepuluh besar kota dengan layanan pelanggan paling ramah. Destinasi seperti Yogyakarta, Bali, atau bahkan Jakarta memiliki potensi besar untuk bersaing, namun perlu didukung oleh konsistensi kualitas layanan dan promosi yang lebih gencar.
Menurut analis pariwisata, keramahan bukan hanya soal senyum dan sapaan, melainkan juga mencakup efisiensi layanan, kebersihan, dan kemudahan akses informasi bagi wisatawan. Kota-kota di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal infrastruktur dan standarisasi layanan, terutama di sektor usaha kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung pariwisata.
Ke depan, persaingan antar kota dalam hal keramahan diprediksi akan semakin ketat seiring dengan pulihnya industri pariwisata global. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mengikuti jejak Vietnam dan menghadirkan kota-kota yang tidak hanya ramah, tetapi juga diakui secara global? Atau justru akan terus tertinggal karena kurangnya perhatian pada kualitas layanan pelanggan?



