Bandara di China Viral Usai Adopsi Kucing Liar Jadi ‘Petugas Pengendali Tikus’
Baca dalam 60 detik
- Bandara Lanzhou Zhongchuan International di China mengadopsi tiga kucing liar dan menyediakan rumah kaca mewah di area boarding.
- Kucing-kucing tersebut secara efektif mengendalikan hama tikus, menggantikan penggunaan racun kimia yang berbau menyengat.
- Kisah ini menuai pujian luas di media sosial dan bisa menjadi inspirasi bagi pengelola fasilitas umum di Indonesia untuk solusi ramah lingkungan.

Bandara Lanzhou Zhongchuan International di Provinsi Gansu, China, menuai pujian luas setelah secara resmi mengadopsi tiga kucing liar dan membangunkan rumah kaca khusus di area keberangkatan. Langkah ini tidak hanya menyentuh hati para pengguna jasa, tetapi juga menjadi solusi inovatif dalam pengendalian hama di lingkungan bandara.
Ketiga kucing yang merupakan satu keluarga itu diberi nama Sangbiao (ayah), Cuihua (ibu), dan Cuiguo (anak yang lahir pada Juni lalu). Mereka menempati sebuah kandang kaca berukuran cukup luas di dekat gerbang keberangkatan nomor 58. Fasilitas itu dilengkapi sistem sirkulasi udara segar, dispenser air minum, dan tiang panjatan. Bandara bahkan menunjuk petugas khusus untuk merawat mereka dan secara rutin mengajak kucing dewasa berpatroli di area tertentu pada pagi hari saat jumlah penumpang masih sepi.
Uniknya, kandang tersebut dijuluki sebagai “kantor pengendali tikus” bandara. Sangbiao dan Cuihua, yang sebelumnya merupakan kucing liar di lokasi pembangunan terminal baru, terbukti mampu menekan populasi tikus di area bandara. Manajemen bandara mengklaim sejak awal tahun ini tidak ada lagi infestasi tikus, sehingga mereka tidak perlu lagi menggunakan racun tikus yang mengeluarkan bau menyengat. Kedua kucing dewasa itu bertugas memeriksa area konveyor, dapur kantin, dan gudang penyimpanan.
Kebijakan bandara ini mendapat respons positif dari warganet. Seorang blogger dalam videonya yang meraih 44.000 suka mengatakan, “Saya mengira bandara akan mengusir atau mengabaikan kucing-kucing ini. Tapi mereka justru menyediakan tempat tidur nyaman, makanan segar, dan kandang kaca khusus. Kerja bagus, Bandara Lanzhou.” Warganet lain menambahkan, “Bandara ini layak mendapat nilai plus karena peduli pada hewan kecil.”
Kisah ini menarik untuk dicermati di Indonesia, di mana banyak fasilitas umum seperti bandara, stasiun, dan terminal masih kerap menghadapi masalah hama tikus. Penggunaan kucing sebagai pengendali hama alami bisa menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan racun kimia. Namun, perlu dipertimbangkan aspek kesejahteraan hewan, kebersihan, dan keamanan penumpang. Beberapa bandara di Indonesia, seperti Bandara Soekarno-Hatta, telah memiliki program adopsi kucing liar, tetapi belum terintegrasi dengan fungsi pengendalian hama secara resmi.
Ke depannya, model yang diterapkan Bandara Lanzhou bisa menjadi studi kasus bagi pengelola fasilitas publik di Tanah Air. Apakah bandara-bandara Indonesia akan mengikuti jejak serupa dengan mengintegrasikan kucing liar sebagai bagian dari strategi pengelolaan lingkungan? Atau justru memilih solusi teknologi yang lebih modern? Yang jelas, pendekatan humanis terhadap hewan liar di ruang publik semakin mendapat tempat di hati masyarakat.



