Sentosa di Persimpangan: Antara Kenangan Masa Lalu dan Tantangan Menjadi Tempat Favorit Baru
Baca dalam 60 detik
- Master Plan Sentosa Raya menawarkan atraksi baru, namun warga Singapura kini lebih memilih liburan ke luar negeri karena biaya terjangkau.
- Jumlah perjalanan keluar negeri warga Singapura pada 2025 mencapai 10,6 juta, hampir tiga kali lipat dibanding 1997, menggerus daya tarik Sentosa.
- Sentosa perlu bertransformasi dari sekadar destinasi wisata berbayar menjadi ruang publik yang hidup dengan ritual lokal, seperti Hakone atau Tamsui.

Sentosa, pulau resor ikonik di selatan Singapura, tengah berbenah besar-besaran. Otoritas pengelola, Sentosa Development Corporation (SDC), baru saja meluncurkan cetak biru ambisius bertajuk Greater Sentosa yang menjanjikan pengalaman baru seperti kanopi hutan dan wisata antarpulau. Namun, di balik gemerlap rencana tersebut, muncul pertanyaan mendasar: mampukah pulau yang hanya berjarak sepuluh menit dari pusat bisnis ini kembali memikat hati warganya yang kini lebih gemar melancong ke luar negeri?
Bagi generasi yang tumbuh di era 1980-an dan 1990-an, Sentosa adalah petualangan besar. Perjalanan menaiki feri, dengan aroma solar dan debur ombak, menjadi kenangan manis yang sulit dilupakan. Namun, kemudahan akses melalui Sentosa Express, jalan raya, dan boardwalk justru menghilangkan sensasi 'melarikan diri' dari hiruk-pikuk kota. Kini, warga Singapura memiliki tolok ukur yang berbeda. Maraknya maskapai penerbangan murah, nilai tukar dolar Singapura yang kuat, dan peningkatan pendapatan telah mengubah gaya hidup. Data Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan menunjukkan bahwa pada 2025, terdapat lebih dari 10,6 juta perjalanan keluar negeri dari Singapura—hampir tiga kali lipat dari angka 1997.
Johor Bahru, Malaysia, menjadi tujuan favorit akhir pekan. Hingga Juli 2025, warga Singapura telah melakukan lebih dari 11 juta kunjungan ke Johor. Angka ini diprediksi akan melonjak saat sistem transit cepat Johor Bahru-Singapura (RTS) beroperasi pada 2027. Dengan begitu banyak opsi yang mudah dijangkau, Sentosa harus bersaing ketat. Teman-teman yang saya ajak bicara kerap membandingkan biaya staycation di Sentosa, termasuk tiket masuk atraksi, dengan biaya liburan singkat ke negara tetangga di Asia Tenggara.
Menurut penulis lepas Annie Tan dalam artikelnya di CNA, daya tarik Sentosa bukan semata-mata karena atraksinya yang kehilangan pesona, melainkan karena ekspektasi warga yang telah berubah. Sensasi melewati imigrasi, mendapatkan stempel paspor, dan memasuki negara lain dengan budaya serta mata uang berbeda memiliki sihir tersendiri yang sulit ditandingi oleh pulau resor di dalam negeri. Sentosa, dalam pandangannya, berada di posisi yang canggung—terlalu dekat untuk terasa seperti liburan, namun belum cukup mendarah daging dalam keseharian warga.
Perbandingan menarik dapat ditarik dengan Hakone di Jepang dan Tamsui di Taiwan. Kedua tempat ini mudah diakses dari kota besar, namun tidak mengandalkan atraksi baru yang terus diperbarui. Warga Tokyo datang ke Hakone untuk berendam di onsen sambil menikmati pemandangan Gunung Fuji, sementara warga Taipei mengunjungi Tamsui untuk jajanan kaki lima dan matahari terbenam. Keduanya telah menjadi tradisi akhir pekan yang mendarah daging. Sentosa, sebaliknya, masih dipandang sebagai destinasi terencana yang membutuhkan tiket dan acara khusus. Master Plan Sentosa Raya berupaya mengubah persepsi ini dengan menghadirkan ruang publik yang lebih inklusif: kanopi hutan di Imbiah, revitalisasi pantai Siloso, Palawan, dan Tanjong, serta boardwalk terapung yang menghubungkan pulau-pulau kecil. Semua ini dirancang agar pengunjung datang tanpa rencana khusus, sekadar untuk berkumpul dan bersantai.
Menteri Perdagangan dan Hubungan Perdagangan Grace Fu pernah menyebut Sentosa sebagai tempat istimewa di hati warga Singapura, tempat lahirnya kenangan indah. Namun, untuk mempertahankan status itu, Sentosa perlu lebih dari sekadar atraksi kelas dunia. Ia harus menjadi ruang di mana generasi baru membangun ritual dan ritme mereka sendiri—tempat bermain anak-anak, berpacaran, dan segala momen kehidupan lainnya. Bagi wisatawan, hal ini akan memberi karakter; bagi warga lokal, menciptakan rasa memiliki. Pertanyaannya kini: mampukah rencana ambisius ini menjembatani jarak antara Sentosa sebagai destinasi wisata dan Sentosa sebagai 'rumah kedua' bagi warganya?



