Lorde Kritik Fitur AI Spotify yang Sebar Informasi Keliru soal Tur Konsernya
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Lorde mengecam fitur 'About the Song' milik Spotify yang didukung AI karena memberikan deskripsi salah soal momen dalam konsernya.
- Lorde meminta Spotify menyediakan opsi bagi artis untuk tidak ikut serta dalam fitur beta tersebut, karena dianggap membatasi interpretasi karya.
- Kritik Lorde menambah daftar panjang penolakan musisi terhadap penggunaan AI di industri musik, termasuk SZA yang marah besar karena lagunya digunakan untuk melatih AI.

Penyanyi asal Selandia Baru, Lorde, melontarkan kritik pedas terhadap fitur kecerdasan buatan (AI) milik Spotify yang diberi nama 'About the Song'. Pasalnya, fitur yang masih dalam tahap uji coba itu memberikan informasi keliru mengenai salah satu momen dalam pertunjukan tur konsernya.
Dalam unggahan di Instagram Stories, Lorde mengungkapkan bahwa AI tersebut secara tidak akurat menyebutkan bahwa ia disiram air dan melepas pakaian saat membawakan lagu 'Current Affairs' dalam Ultrasound World Tour 2025. Padahal, aksi panggung itu sebenarnya terjadi saat ia membawakan lagu 'GRWM'. "Bukan hanya tidak akurat (bukan lagu yang saya lakukan itu), tetapi mereduksi sebuah lagu menjadi makna yang dihasilkan AI tepat di sumbernya terasa membatasi interpretasi bebas menurut saya," tulis Lorde. Ia pun meminta Spotify setidaknya menyediakan opsi bagi artis untuk tidak ikut serta dalam fitur tersebut.
Menanggapi kritik tersebut, Spotify angkat bicara melalui pernyataan yang dikutip oleh Pitchfork. Pihak perusahaan menyatakan bahwa fitur 'About the Song' dibangun karena penggemar ingin mengetahui cerita di balik musik. "Ini masih dalam beta. Informasi berasal dari artikel di seluruh internet, dan ketika ada yang salah, kami bergerak cepat untuk memperbaikinya, seperti yang kami lakukan di sini. Akurasi itu penting bagi kami," demikian bunyi pernyataan Spotify.
Lorde bukanlah satu-satunya musisi yang vokal menentang penggunaan AI di industri seni. Dalam penampilannya di Mad Cool Festival, Madrid, ia juga menyerang kacamata pintar AI milik Meta. "Semakin hari, di dunia kita, semakin sulit untuk mengetahui apa yang nyata. Boleh saya katakan, untuk catatan, persetan dengan kacamata itu. Jangan beli kacamata itu. Tidak seksi," ujarnya di atas panggung.
Sebelumnya, penyanyi SZA juga meluapkan kemarahannya setelah mengetahui lebih dari 200 lagunya digunakan untuk melatih AI, termasuk kemungkinan materi yang belum dirilis. Pelantun 'Kill Bill' itu menyebut dukungan terhadap AI sebagai sesuatu yang "menjijikkan". "Jika kamu seorang musisi dan kamu mendukung sampah dekaden ini? Kamu menjijikkan dan TIDAK ADA YANG BISA KAMU KATAKAN UNTUK MEMBUAT INI BAIK-BAIK SAJA. Saya harap kamu mendapat kehidupan yang pantas kamu dapatkan," tulisnya di Instagram Stories.
Di Indonesia, perdebatan serupa mulai mengemuka. Beberapa musisi tanah air juga menyuarakan kekhawatiran terhadap penggunaan AI tanpa izin dalam proses kreatif. Isu ini menjadi penting mengingat industri musik Indonesia terus bertumbuh dan adopsi teknologi AI kian masif. Regulasi perlindungan hak cipta dan etika penggunaan AI masih dalam tahap pembahasan, sehingga kasus Lorde dan SZA bisa menjadi preseden bagi musisi lokal untuk lebih vokal menuntut transparansi dari platform digital.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Spotify dan platform lain bersedia memberikan kontrol lebih kepada artis atas data dan karya mereka? Atau justru akan terus mengandalkan AI tanpa mempertimbangkan dampak etis dan kreatifnya? Jawabannya mungkin akan menentukan arah hubungan antara teknologi dan seni di era digital.



