MRT Singapura Catat Rekor Keandalan: Delapan Bulan Tanpa Gangguan Besar
Baca dalam 60 detik
- Jaringan MRT Singapura menorehkan rekor terpanjang tanpa keterlambatan lebih dari 30 menit sejak 2011, mencapai delapan bulan berturut-turut hingga Juni 2026.
- Indikator MKBF melampaui 2 juta train-km selama tiga bulan beruntun, didorong oleh rekomendasi Rail Reliability Taskforce dan kerja keras petugas transportasi.
- Pencapaian ini menjadi tolok ukur bagi sistem transportasi publik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang tengah mengembangkan moda raya massal.

Jaringan MRT Singapura mencatatkan periode bebas gangguan besar terlama dalam sejarahnya, dengan tidak adanya keterlambatan melebihi 30 menit selama delapan bulan berturut-turut hingga Juni 2026 โ rekor sejak otoritas setempat mulai mencatat statistik tersebut pada 2011.
Berdasarkan laporan bulanan Land Transport Authority (LTA) yang dirilis pada 17 Juli, indikator Mean Kilometres Between Failure (MKBF) โ jarak rata-rata tempuh kereta sebelum terjadi keterlambatan lebih dari lima menit โ mencapai 2,5 juta train-km pada Juni, naik dari 2,35 juta train-km pada Mei yang telah direvisi. Capaian ini menjadi yang tertinggi ketiga setelah rekor 2,627 juta train-km pada Juni 2024.
LTA menegaskan bahwa konsistensi keandalan selama tiga bulan terakhir merupakan hasil dari upaya berkelanjutan para pekerja transportasi dan operator rel dalam meningkatkan respons terhadap gangguan. Badan itu juga menyebut rekomendasi Rail Reliability Taskforce yang dibentuk pada Februari 2026 mulai membuahkan hasil. Semua jalur MRT dewasa โ North-South, East-West, Circle, North East, dan Downtown โ mencatat MKBF di atas 1 juta train-km, dengan North-South Line mencatat peningkatan signifikan menjadi 1,98 juta train-km dari 1,65 juta train-km pada bulan sebelumnya.
Namun, LTA juga melakukan revisi data Mei setelah investigasi terhadap keterlambatan di Circle Line (CCL) pada 16 Mei selesai. Insiden yang menyebabkan penundaan lebih dari lima menit itu membuat MKBF CCL Mei direvisi turun drastis dari 3,55 juta menjadi 2,37 juta train-km, dan MKBF keseluruhan jaringan Mei turun dari 2,5 juta menjadi 2,35 juta train-km. Meski begitu, secara bulanan keandalan tetap membaik. Sementara itu, Thomson-East Coast Line (TEL) โ yang masih dalam tahap konstruksi dan integrasi sistem โ tidak dimasukkan dalam perhitungan MKBF jaringan utama dan mencatat angka 355.000 train-km.
Bagi Indonesia, pencapaian ini menjadi referensi penting di tengah percepatan pembangunan moda raya massal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Keandalan sistem MRT Singapura yang konsisten di atas 99 persen menunjukkan pentingnya investasi pada perawatan, pelatihan petugas, serta mekanisme respons cepat terhadap gangguan. LTA juga menekankan bahwa indikator layanan kereta โ yang mengukur kesesuaian jarak tempuh aktual terhadap jadwal โ tetap di atas 99 persen, dengan CCL sedikit lebih rendah akibat uji coba integrasi sistem menjelang pembukaan Tahap 6 pada 12 Juli. Setelah tahap tersebut beroperasi, performa CCL diperkirakan kembali normal.
Ke depan, tantangan bagi Singapura adalah mempertahankan rekor ini seiring perluasan jaringan dan peningkatan frekuensi perjalanan. Sementara bagi Indonesia, pelajaran dari negeri jiran ini bisa menjadi tolok ukur untuk mengejar ketertinggalan dalam hal keandalan transportasi publik massal. Akankah Jakarta mampu meniru jejak Singapura dalam waktu dekat?



