IHSG Melesat 1,1% di Tengah Darah Bursa Asia: Saham Keuangan Jadi Penopang
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup naik 1,10% ke 6.175,5 pada Jumat (17/7/2026), berbanding terbalik dengan bursa Asia yang kompak merah.
- Sektor keuangan menjadi motor penggerak dengan kenaikan 2,34%, diikuti siklikal, kesehatan, dan properti.
- Koreksi tajam di Asia dipicu aksi jual saham chip dan teknologi, namun IHSG mampu bertahan berkat dominasi sektor domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus arus negatif kawasan Asia pada perdagangan Jumat (17/7/2026) dengan mencatatkan kenaikan 1,10% ke level 6.175,5. Pencapaian ini kontras dengan bursa saham utama Asia yang kompak tertekan aksi jual besar-besaran, terutama di sektor teknologi dan semikonduktor.
Berdasarkan data RTI Business, nilai transaksi IHSG mencapai Rp16,16 triliun dengan volume 29,04 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,02 juta transaksi. Sektor keuangan menjadi primadona dengan kenaikan tertinggi 2,34%, disusul sektor siklikal (0,8%), kesehatan (0,67%), dan properti (0,38%). Lonjakan ini menunjukkan investor domestik masih optimistis terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.
Sementara itu, bursa Asia mengalami pendarahan. Indeks Taiwan memimpin koreksi dengan anjlok 6,47% ke 42.671,27. Indeks Shenzhen Tiongkok ambles 5,4%, Shanghai turun 3,05%, Nikkei Jepang terkoreksi 4,03%, dan Hang Seng Hong Kong melemah 1,78%. Kospi Korea Selatan libur nasional. Tekanan jual dipicu oleh kekhawatiran berlanjutnya koreksi saham produsen chip global, yang juga menjalar ke EropaโASMI dan ASML Belanda masing-masing turun 4,6% dan 3,8% pada perdagangan pagi.
Bagi investor Indonesia, kinerja IHSG yang resilien ini memberikan sinyal bahwa pasar modal domestik masih memiliki daya tahan terhadap gejolak eksternal. Menurut analis pasar, dominasi sektor keuangan yang berbasis pada konsumsi domestik dan perbankan membuat IHSG tidak terlalu terpengaruh oleh aksi jual saham teknologi global. Namun, ke depan investor perlu mencermati pergerakan indeks S&P 500 yang masih sekitar 1% di bawah rekor tertinggi Juni, karena koreksi lebih lanjut di Wall Street bisa kembali menekan sentimen Asia.
Pertanyaan yang mengemuka: mampukah IHSG mempertahankan momentum positif ini jika tekanan jual di pasar global berlanjut, ataukah ini hanya sekadar jeda sebelum koreksi susulan? Para pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada dan mencermati data ekonomi domestik serta kebijakan moneter global pekan depan.



