Investor Asing Borong Saham Bank, IHSG Ditutup Hijau
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatat net buy Rp638,6 miliar di seluruh pasar pada Jumat, dengan saham perbankan sebagai motor utama penguatan IHSG.
- BMRI dan BBRI menjadi primadona dengan net buy masing-masing Rp375,4 miliar dan Rp267,7 miliar, sementara BBCA tetap diburu.
- Aksi jual masih terjadi di sektor komoditas dan energi, namun aliran dana ke perbankan mampu menopang indeks naik 1,10%.

Dana asing kembali membanjiri bursa saham Indonesia pada Jumat (17/7/2026), dengan net foreign buy mencapai Rp638,6 miliar. Aksi borong ini terkonsentrasi di saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,10% ke level 6.175,53.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi incaran utama dengan net buy Rp375,4 miliar. Disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang mencatat beli bersih Rp267,7 miliar. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga tetap diminati dengan net buy Rp691,9 miliar. Selain perbankan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) turut diburu asing senilai Rp76,3 miliar.
Di sisi lain, investor asing masih melepas saham-saham berbasis komoditas dan sektor siklikal. PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) menjadi yang terbesar ketiga net sell-nya mencapai Rp41 miliar, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp34,4 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp30,9 miliar, PT Petrosea Tbk. (PTRO) Rp26 miliar, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) Rp24,3 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) Rp23,1 miliar. Aksi jual juga terlihat pada saham energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), PT Indika Energy Tbk. (INDY), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG).
Meski tekanan jual di sektor komoditas dan energi cukup deras, derasnya aliran dana asing ke perbankan berhasil mengimbangi dan membawa IHSG ke zona hijau. Penguatan indeks juga didukung oleh sentimen positif dari data ekonomi domestik dan ekspektasi kebijakan suku bunga yang akomodatif.
Bagi investor Indonesia, pergerakan ini menegaskan kembali peran sektor perbankan sebagai pilar utama bursa. Aliran dana asing yang konsisten ke saham-saham seperti BMRI, BBRI, dan BBCA menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental perbankan nasional yang solid, terutama di tengah ketidakpastian global. Namun, aksi jual di sektor komoditas patut diwaspadai, mengingat harga komoditas global yang masih fluktuatif.
Ke depan, investor akan mencermati data inflasi AS dan kebijakan bank sentral global yang dapat mempengaruhi aliran modal asing. Pertanyaannya, mampukah IHSG bertahan di atas level 6.200 jika tekanan jual di sektor lain kembali meningkat?



