Piala Dunia 2026: Afrika Cetak Sejarah, tapi Masih Dihantui 'Drama Menit Akhir'
Baca dalam 60 detik
- Sepuluh wakil Afrika mencatatkan partisipasi terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, dengan sembilan tim lolos ke fase gugur.
- Morocco menjadi satu-satunya yang menembus perempat final, sementara lima tim Afrika tumbang setelah kebobolan gol telat, termasuk Senegal dan Mesir yang kehilangan keunggulan dua gol.
- Cape Verde menjadi sensasi dengan debut gemilang hingga 32 besar, namun masalah konsentrasi di akhir laga masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi sepak bola Afrika.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, benua Afrika mengirimkan kontingen terbesarnya ke Piala Dunia 2026 dengan sepuluh wakil, dan sembilan di antaranya berhasil melaju ke babak knockout. Namun, di balik catatan partisipasi yang memecahkan rekor, masih ada satu pertanyaan besar: mengapa begitu banyak tim Afrika yang kehilangan fokus di menit-menit krusial?
Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), Patrice Motsepe, menyebut pencapaian ini sebagai kebanggaan bagi 1,6 miliar penduduk Afrika. Namun, hanya Morocco yang mampu menembus perempat final. Sisanya—termasuk Senegal, Mesir, DR Congo, Pantai Gading, dan Afrika Selatan—harus rela angkat koper lebih awal, sebagian besar setelah kebobolan gol di masa injury time.
Senegal menjadi contoh paling menyakitkan. The Teranga Lions unggul 2-0 atas Belgia hingga menit ke-85, namun akhirnya kalah 3-2 setelah gol kemenangan Belgia tercatat sebagai gol penentu kemenangan paling telat dalam sejarah Piala Dunia. Mesir juga mengalami nasib serupa: unggul 2-0 atas Argentina, lalu kebobolan dua gol dalam waktu lima menit dan akhirnya tersingkir lewat sundulan Enzo Fernandez pada menit ke-92.
Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Mantan bek Pantai Gading, Emmanuel Eboue, telah memperingatkan sebelum turnamen bahwa tim Afrika rentan terhadap gol akhir karena kurangnya konsentrasi. Psikolog olahraga Dr. Nikita Rowley dari Coventry University menambahkan bahwa kelelahan kognitif di akhir pertandingan memengaruhi pengambilan keputusan dan komunikasi, terutama saat tim berada di ambang sejarah. "Semakin dekat Anda dengan sesuatu yang bersejarah, semakin besar tuntutan psikologisnya," ujarnya.
Di sisi lain, Cape Verde menjadi cerita paling menarik. Tim debutan ini tidak hanya lolos dari grup yang berisi Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi, tetapi juga hampir mengalahkan juara bertahan Argentina di babak 32 besar. Kiper Vozinha, yang kini berusia 40 tahun, menjadi fenomena media sosial dengan jumlah pengikut Instagram melonjak dari 50.000 menjadi 29 juta. Bahkan, spesies siput laut yang baru ditemukan dinamai menurut namanya. Bek Roberto 'Pico' Lopes menegaskan, "Kami adalah negara kecil dengan hati besar, dan kami menunjukkan bahwa apa pun mungkin terjadi jika Anda percaya."
Morocco kembali membuktikan diri sebagai kekuatan utama Afrika dengan menjadi tim pertama dari benua itu yang tampil di perempat final secara beruntun. Namun, langkah mereka terhenti oleh Prancis, seperti halnya di Qatar 2022. Pelatih Mohamed Ouahbi optimistis dengan masa depan, terutama setelah penampilan gemilang gelandang 18 tahun Ayoub Bouaddi yang dikaitkan dengan klub-klub Eropa.
Perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim jelas menguntungkan Afrika. Dari lima jatah sebelumnya, kini Afrika mendapat sembilan tempat otomatis plus satu dari play-off. Pelatih asal Gambia yang bekerja di FIFA, Mattar M'Boge, menilai pengalaman bermain di laga bertekanan tinggi masih kurang dimiliki pemain Afrika. "Eropa dan Amerika Selatan memiliki keunggulan karena mereka lebih sering memainkan pertandingan seperti ini. Nations League yang akan datang di Afrika diharapkan bisa mengubah hal itu," katanya.
Namun, di balik prestasi di lapangan, Piala Dunia 2026 juga menyisakan kepahitan bagi Afrika di luar rumput. Suporter dari Pantai Gading dan Senegal tidak bisa mendapatkan visa yang direkomendasikan otoritas AS, sementara warga Aljazair, Cape Verde, dan Tunisia diminta membayar deposit hingga 15.000 dolar AS untuk visa. Wasit asal Somalia, Omar Artan, ditolak masuk AS lima hari sebelum turnamen, meskipun ia mengklaim memiliki dokumen lengkap. UEFA kemudian menunjuknya untuk memimpin Piala Super antara PSG dan Aston Villa. FIFA dikritik keras atas insiden ini, namun CAF bungkam.
Dengan rencana Presiden FIFA Gianni Infantino untuk memperluas turnamen menjadi 64 tim, Afrika berpotensi mendapat lebih banyak kursi. Namun, tanpa perbaikan fundamental dalam hal konsentrasi, pengalaman, dan dukungan di luar lapangan, kemajuan sepak bola Afrika mungkin tetap berjalan lambat. Apakah benua ini akan mampu memanfaatkan peluang besar di Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Morocco, Spanyol, dan Portugal?



