H5N1 Menginfeksi Elang Asli Selandia Baru, Kekhawatiran Meluas ke Unggas
Baca dalam 60 detik
- Selandia Baru mengonfirmasi kasus pertama flu burung H5N1 pada burung asli, seekor elang rawa (kahu), setelah sebelumnya ditemukan pada burung laut migran.
- Menteri Biosekuriti menyatakan temuan ini tidak mengejutkan mengingat kasus sebelumnya, namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran ke unggas domestik.
- Pemerintah memulai vaksinasi untuk 300 burung langka, sementara Australia juga melaporkan kasus serupa pada burung laut lokal, menandai penyebaran regional yang mengkhawatirkan.

Untuk pertama kalinya, flu burung H5N1 yang mematikan ditemukan pada burung asli Selandia Baru, memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap satwa liar dan industri unggas. Seekor elang rawa (kahu) di wilayah Wairarapa, Pulau Utara, terkonfirmasi terinfeksi virus tersebut pada Jumat (17/7), hanya beberapa hari setelah kasus pertama negara itu terdeteksi pada burung laut migran.
Menteri Biosekuriti Andrew Hoggard mengungkapkan bahwa temuan ini tidak di luar dugaan setelah kasus pertama pada burung skua cokelat di dekat Wellington pekan lalu. "Elang ini bisa pergi ke pantai, terutama di musim dingin untuk berburu. Mereka bisa tertular flu burung dengan berburu, memakan, atau memakan bangkai burung yang terinfeksi," jelas Hoggard. Namun, ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada deteksi flu burung pada unggas domestik.
Kasus ini menandai eskalasi penyebaran H5N1 di kawasan Pasifik. Sebelumnya, Australia melaporkan kasus pertama pada burung laut lokal awal bulan ini, sementara kasus-kasus sebelumnya hanya melibatkan burung migran. Para ahli memperingatkan bahwa penyebaran ke burung asli meningkatkan risiko penularan ke spesies lain, termasuk unggas komersial.
Langkah respons cepat dilakukan otoritas kesehatan dengan memulai program vaksinasi untuk 300 burung inti dari lima spesies paling terancam punah di negara itu, termasuk takahe dan kakapo yang tidak bisa terbang. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah melindungi keanekaragaman hayati yang unik dari ancaman pandemi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi peringatan dini. Sebagai negara dengan populasi unggas yang besar dan jalur migrasi burung yang melintasi wilayahnya, risiko masuknya H5N1 melalui burung migran sangat nyata. Otoritas kesehatan hewan di Indonesia perlu meningkatkan surveilans di titik-titik masuk dan peternakan unggas, terutama menjelang musim migrasi. Belajar dari Selandia Baru, vaksinasi preventif pada spesies rentan bisa menjadi strategi mitigasi.
Para ahli memperkirakan bahwa penyebaran H5N1 ke burung asli di Selandia Baru dapat memperluas reservoir virus di alam liar, meningkatkan kemungkinan mutasi dan penularan balik ke unggas domestik. Pertanyaan kuncinya: seberapa cepat virus ini dapat menyebar ke spesies lain, dan apakah langkah-langkah pengendalian saat ini cukup untuk mencegah wabah yang lebih luas?



