Kerja Jarak Jauh di Jepang Tingkatkan Risiko Depresi Akibat Isolasi Sosial
Baca dalam 60 detik
- Studi di jurnal Science mengungkap pekerja remote menghabiskan satu jam lebih banyak sendirian setiap hari, berkontribusi pada 30% peningkatan gangguan mental.
- Pekerja yang tinggal sendirian mengalami penurunan kesehatan mental hampir dua kali lipat dibandingkan yang tinggal bersama orang lain.
- Pakar menekankan solusi bukan menghapus kerja jarak jauh, melainkan menjaga koneksi sosial melalui sistem hybrid dan dukungan atasan.

Maraknya kerja jarak jauh pascapandemi COVID-19 membawa konsekuensi yang tak terduga: isolasi sosial yang memicu kecemasan dan depresi. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science menemukan bahwa pekerja yang bisa bekerja dari rumah menghabiskan sekitar satu jam lebih banyak sendirian setiap hari dibandingkan mereka yang tidak bisa, dan kondisi ini berkontribusi terhadap hampir sepertiga peningkatan gangguan kesehatan mental di kalangan pekerja Amerika.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Federal Reserve Bank New York, Universitas Virginia, dan Harvard ini menganalisis data lima survei nasional terhadap 588.322 responden antara 2011 hingga 2024. Hasilnya menunjukkan kontak sosial semakin menyusut, dengan lebih banyak hari tanpa interaksi sama sekali dan berkurangnya waktu bersama teman setelah jam kerja. Lonjakan indikator depresi dan kecemasan secara signifikan terkait dengan perluasan teleworking.
Dampak ini tidak merata. Pekerja yang tinggal sendirian mengalami hari tanpa kontak sosial yang jauh lebih sering, dan penurunan kesehatan mental mereka hampir dua kali lebih parah dibandingkan pekerja yang tinggal bersama orang lain. Temuan ini mengonfirmasi bahwa isolasi merupakan faktor risiko utama yang perlu diatasi.
Fenomena serupa juga terlihat di Jepang. Survei Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang mencatat sekitar separuh perusahaan swasta telah menerapkan kerja jarak jauh. Analisis terhadap 13.000 pekerja kantoran oleh tim dari Universitas Kesehatan dan Lingkungan Kerja Jepang menunjukkan bahwa mereka yang bekerja remote empat hari atau lebih per minggu cenderung lebih sering merasa kesepian. Risiko kesepian meningkat tajam ketika dukungan dari atasan dan rekan kerja minim.
Menurut Seraki Miyamoto, dokter spesialis okupasi dan direktur Klinik Psikosomatik Akasaka di Tokyo, isolasi adalah inti masalah. "Kerja jarak jauh membuat orang lebih mudah terisolasi karena komunikasi tatap muka berkurang, dan hal ini terkait dengan peningkatan perasaan terisolasi dan tekanan psikologis," ujarnya. Percakapan santai dan interaksi informal dianggap berperan penting dalam stabilitas psikologis, namun teleworking sering mengurangi kesempatan tersebut.
Meskipun demikian, kerja jarak jauh tetap diminati. Survei kelompok riset Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menemukan banyak pekerja ingin melanjutkan teleworking karena pengurangan waktu komuter dan fleksibilitas. Miyamoto menegaskan, "Masalahnya bukan pada kerja jarak jauh itu sendiri, tetapi apakah koneksi dengan orang lain tetap terpelihara. Tanpa upaya komunikasi yang disengaja, isolasi akan meningkat dan masalah kesehatan mental rentan muncul."
Solusi yang direkomendasikan mencakup penerapan kerja hybrid—kombinasi kerja di kantor dan jarak jauh—serta penguatan sistem dukungan dari atasan dan rekan kerja. Kementerian Kesehatan Jepang telah mengeluarkan pedoman promosi teleworking yang mendorong perusahaan menyediakan layanan konsultasi kesehatan dan menjaga komunikasi dengan karyawan menggunakan daftar periksa untuk melindungi kesejahteraan mereka.
Bagi Indonesia, di mana kerja jarak jauh juga semakin populer, temuan ini menjadi peringatan. Tanpa kebijakan yang memperhatikan aspek psikososial, produktivitas yang diraih bisa dibayangi oleh krisis kesehatan mental. Pertanyaannya, apakah perusahaan di Indonesia siap mengadopsi langkah-langkah seperti hybrid work dan sistem dukungan yang memadai sebelum dampak isolasi meluas?



