India Resmikan Kereta Hidrogen Pertama, Langkah Besar Menuju Transportasi Nol Emisi
Baca dalam 60 detik
- India meluncurkan kereta bertenaga hidrogen pertama di Jind, Haryana, menandai tonggak baru dalam dekarbonisasi transportasi rel.
- Proyek senilai US$12 juta ini menggunakan sistem propulsi 1.200 kW yang diklaim terkuat di dunia, meski beberapa komponen masih impor.
- Langkah ini memperkuat posisi India di antara segelintir negara yang menguji teknologi hidrogen, sekaligus mendorong modernisasi jaringan rel terbesar keempat global.

India resmi mengoperasikan kereta bertenaga hidrogen pertamanya pada Jumat (17 Juli), menempatkan negara itu dalam jajaran pelopor teknologi ramah lingkungan di sektor perkeretaapian. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar New Delhi untuk memodernisasi salah satu jaringan rel terpadat di dunia sambil menekan emisi karbon.
Kereta 10 gerbong itu melayani rute sepanjang 89 kilometer antara Jind dan Sonipat di negara bagian Haryana, ditenagai sistem propulsi sel bahan bakar hidrogen berkekuatan 1.200 kilowatt. Pejabat perkeretaapian menyebutnya sebagai sistem paling kuat yang pernah dipasang pada kereta di dunia. Teknologi ini bekerja dengan menggabungkan hidrogen dan oksigen dalam sel bahan bakar untuk menghasilkan listrik, dengan satu-satunya emisi berupa uap air.
Perdana Menteri Narendra Modi, yang meresmikan perjalanan perdana, menyebut momen itu sebagai "hari yang sangat signifikan menuju India yang mandiri dan pembangunan berkelanjutan" dalam unggahan di media sosial. Meski Kementerian Perkeretaapian mengklaim kereta itu "dikembangkan sepenuhnya di India", pejabat senior mengakui bahwa beberapa komponen kunci, termasuk sel bahan bakar, masih diimpor.
Bersamaan dengan peluncuran, pemerintah juga meresmikan fasilitas penyimpanan dan pengisian bahan bakar hidrogen terbesar di India di Jind, berkapasitas sekitar 3.000 kilogram, untuk mendukung operasional kereta hidrogen. Proyek percontohan ini menelan biaya sekitar US$12 juta, jauh lebih mahal dibandingkan layanan konvensional setara. Namun, seorang pejabat senior kereta api menegaskan bahwa biaya diperkirakan akan turun seiring pematangan teknologi.
Dengan peluncuran ini, India bergabung dengan Jerman, Jepang, China, dan Amerika Serikat yang telah menguji atau mengoperasikan kereta hidrogen. Langkah ini juga melengkapi transformasi besar perkeretaapian India yang dimulai sejak kereta uap pertama beroperasi pada 1853 dari Mumbai. Dalam beberapa tahun terakhir, New Delhi telah menggelontorkan miliaran dolar untuk meningkatkan infrastruktur, keselamatan, dan kapasitas. Data resmi menunjukkan jaringan rel India mengangkut 7,41 miliar penumpang dan 1,67 miliar ton barang tahun lalu.
India juga tengah mengembangkan kereta Vande Bharat buatan dalam negeri yang mampu melaju hingga 180 km/jam, serta jalur kereta cepat pertama menggunakan teknologi Shinkansen Jepang yang ditargetkan beroperasi pada 2027 dengan kecepatan 320 km/jam. Modernisasi ini menunjukkan ambisi India menjadi pemain utama dalam transportasi berkelanjutan.
Bagi Indonesia, langkah India menjadi contoh nyata transisi energi di sektor transportasi massal. Dengan jaringan kereta api yang juga luas, Indonesia dapat mempertimbangkan adopsi teknologi hidrogen, terutama mengingat potensi sumber daya energi terbarukan yang melimpah. Namun, tantangan biaya dan ketergantungan impor komponen menjadi catatan penting yang perlu diantisipasi.
Ke depan, keberhasilan proyek percontohan ini akan menjadi tolok ukur bagi negara-negara berkembang lain yang ingin mengurangi emisi tanpa mengorbankan konektivitas. Pertanyaan besarnya: mampukah India menekan biaya produksi dan memperluas jaringan kereta hidrogen dalam skala komersial, ataukah teknologi ini hanya akan menjadi proyek prestise semata?



