Uniper Alihkan Fokus ke Pusat Data, Siapkan Dana €5 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Uniper mengalokasikan lebih dari setengah investasi €5 miliar untuk pembangkit listrik fleksibel guna melayani permintaan pusat data.
- Jerman bersiap menjual 99,12% saham Uniper, dengan kandidat pembeli seperti CPPIB Kanada dan EPH Ceko.
- Lonjakan kebutuhan listrik pusat data di Eropa membuka peluang baru bagi perusahaan energi tradisional.

Uniper, perusahaan energi asal Jerman yang pernah diselamatkan pemerintah saat krisis energi 2022, mengumumkan pergeseran strategi besar dengan membidik pendapatan baru dari pusat data. Raksasa energi itu berencana menggelontorkan investasi sekitar €5 miliar (setara Rp 87 triliun) hingga 2030 untuk memperkuat pembangkit listrik fleksibel dan energi terbarukan.
Lebih dari separuh dana investasi akan difokuskan pada pengembangan pembangkit listrik yang dapat merespons fluktuasi permintaan, terutama di dalam negeri Jerman. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kebutuhan listrik stabil jangka panjang dari pusat data yang kian menjamur di Eropa.
Uniper telah mengidentifikasi lebih dari sepuluh lokasi pembangkit miliknya yang memiliki infrastruktur memadai dan berada di jalur strategis hub data Eropa. Tiga proyek sudah memasuki tahap pengembangan lanjutan, dan keputusan investasi lebih lanjut diharapkan tahun ini. Satu proyek di Inggris bahkan telah rampung dikerjakan.
"Kenaikan permintaan listrik dari pusat data membutuhkan solusi pasokan yang kuat, andal, dan jangka panjang," ujar CEO Uniper, Michael Lewis, dalam pernyataan resmi. Perusahaan menargetkan pendapatan tambahan melalui perjanjian jual-beli listrik terstruktur dan, jika layak secara ekonomi, pasokan langsung dari kapasitas pembangkit yang dimiliki.
Pengumuman ini muncul saat Berlin bersiap melepas 99,12% sahamnya di Uniper. Calon pembeli potensial seperti CPPIB asal Kanada dan EPH asal Ceko diperkirakan akan mengirimkan surat minat pada pertengahan Juni. Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi pasca-bailout besar-besaran selama krisis energi Eropa.
Bagi Indonesia, tren serupa mulai terlihat. Pertumbuhan pusat data di Jawa dan Sumatera mendorong permintaan listrik yang stabil, membuka peluang bagi PT PLN (Persero) dan pengembang listrik swasta untuk mengadopsi model bisnis serupa. Namun, tantangan regulasi dan infrastruktur jaringan masih menjadi pekerjaan rumah.
Ke depan, keberhasilan Uniper dalam mengeksekusi strategi ini akan menjadi tolok ukur bagi perusahaan energi lain di Eropa dan Asia. Akankah model kemitraan antara pembangkit listrik dan operator pusat data menjadi standar baru di era digital?



