Dolar AS Sempat Bertahan di Rp18.000, Transaksi Money Changer Merosot
Baca dalam 60 detik
- Pengunjung money changer di Jakarta turun drastis karena kurs dolar AS sempat betah di atas Rp18.000, membuat minat menukar uang lesu.
- Data Jisdor BI mencatat rupiah sempat menyentuh Rp18.131 per dolar AS pada Juli 2026, sebelum akhirnya menguat ke Rp17.885.
- Meski rupiah mulai menguat, selisih kurs jual-beli di money changer masih lebar, menandakan ketidakpastian pasar valas masih tinggi.

Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang sempat bertahan di atas Rp18.000 dalam beberapa pekan terakhir membuat aktivitas penukaran uang di sejumlah money changer Jakarta sepi. Kondisi ini mencerminkan dampak langsung gejolak nilai tukar terhadap bisnis penukaran valuta asing dan daya beli masyarakat.
Pantauan di dua money changer kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, yakni VIP Money Changer dan Ayu Masagung, menunjukkan jumlah pengunjung jauh dari normal. Surya, petugas VIP Money Changer, mengungkapkan bahwa pada hari biasa yang ramai, pengunjung bisa mencapai 200 orang. Namun hingga Jumat siang (17/7/2026), jumlahnya belum mencapai 100 orang—sekitar 95 orang. “Biasanya kalau ramai bisa 200-an orang, tapi sekarang sepi,” katanya.
Sepinya transaksi tidak hanya terjadi setelah libur sekolah usai, tetapi juga berlangsung sejak masa liburan. Surya menduga sebagian masyarakat memilih berlibur ke tempat lain seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ) ketimbang menukar uang. Di Ayu Masagung, situasi lebih parah. Seorang petugas keamanan mengatakan, “Libur sekolah berakhir, di sini jadi sepi. Kemarin sempat ramai, tapi tidak terlalu.”
Faktor utama yang disebut para petugas adalah mahalnya kurs dolar AS dan dolar Singapura. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah sempat berada di atas Rp18.000 per dolar AS selama tujuh hari kerja berturut-turut. Pada 8 Juli 2026, kurs tercatat Rp18.005, lalu naik ke Rp18.041 pada 16 Juli, dan mencapai puncak Rp18.131 pada pertengahan bulan. Level psikologis ini membuat banyak orang menunda atau membatalkan rencana menukar uang.
Namun, pada hari yang sama, rupiah berhasil menguat signifikan. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di Rp17.885 per dolar AS, terapresiasi 0,53% dan menjauh dari level Rp18.000. Penguatan ini menjadi yang terkuat dalam lebih dari dua pekan. Meski demikian, dampaknya belum langsung terasa di money changer. Di VIP Money Changer, kurs jual dolar AS sudah turun menjadi Rp17.940, sementara kurs beli Rp17.910. Sebaliknya, di Ayu Masagung, kurs jual masih tinggi di Rp18.100 dengan kurs beli Rp17.925—menunjukkan disparitas harga yang cukup lebar.
Bagi masyarakat Indonesia, fluktuasi rupiah terhadap dolar AS berdampak langsung pada biaya perjalanan ke luar negeri, impor barang, dan investasi. Ketika rupiah melemah, biaya liburan atau studi ke luar negeri membengkak, sehingga permintaan valas menurun. Di sisi lain, pelaku usaha yang bergantung pada impor juga menahan diri untuk tidak menukar rupiah dalam jumlah besar. Kondisi ini menekan pendapatan money changer yang mengandalkan volume transaksi.
Ke depan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed, aliran modal asing, serta fundamental ekonomi domestik. Jika rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.000 secara konsisten, minat masyarakat untuk menukar uang diperkirakan perlahan pulih. Namun, selama ketidakpastian masih tinggi, money changer harus bersiap menghadapi musim sepi yang lebih panjang.



