Lonjakan Saham Bank Topang IHSG: Bukan Sekadar Technical Rebound
Baca dalam 60 detik
- IHSG berbalik hijau didorong saham bank jumbo yang naik 2-4%, menyumbang lebih dari 50 poin indeks.
- Kombinasi technical rebound, meredanya arus keluar asing, dan respons positif terhadap kebijakan BI menjadi katalis.
- Pelonggaran aturan NDF offshore dan perluasan instrumen valas CNH dinilai memperkuat stabilitas rupiah dan daya tarik pasar modal.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses membalikkan arah dari zona merah ke hijau pada perdagangan Jumat (17/7/2026), dengan sektor perbankan menjadi motor utama penguatan. Saham-saham bank berkapitalisasi besar seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatat kenaikan signifikan, masing-masing 3,94%, 3,85%, dan 2,29%. Kontribusi keempat emiten ini terhadap IHSG mencapai lebih dari 50 poin, mendorong indeks naik 1,32% ke level 6.188,33 pada awal sesi II.
Analis menilai lonjakan ini bukan sekadar fenomena technical rebound. Elandry Pratama, analis Panin Sekuritas, mengungkapkan bahwa sektor perbankan sebelumnya mengalami tekanan berat, sehingga aksi akumulasi oleh investor wajar terjadi. Namun, faktor fundamental turut bermain: tekanan arus keluar dana asing mulai mereda, ekspektasi perbaikan likuiditas dan pertumbuhan kredit menguat, serta valuasi saham bank dinilai semakin menarik. Kebijakan High Shareholding Concentration (HSC) juga disebut memberikan persepsi positif terhadap transparansi pasar modal.
Sentimen positif lainnya datang dari pernyataan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam CNBC Indonesia Investment Forum 2026. Destry menegaskan bahwa bank-bank Indonesia tidak akan menanggung kerugian BI dalam skema stabilisasi rupiah. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pernyataan ini menjadi angin segar bagi investor asing. โFinally investor asing mendengar senior deputy governor berbicara sendiri tentang menjamin bank-bank Indonesia tidak menanggung kerugian BI,โ ujarnya.
BI juga mengumumkan langkah terobosan: masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore sejak April 2026, beroperasi 24 jam enam hari seminggu melalui kantor perwakilan di Singapura, Hong Kong, dan New York. Selain itu, BI memberikan pengecualian larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di offshore bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) tertentu. Langkah ini bersifat sukarela dan bertujuan memperdalam pasar keuangan domestik serta menstabilkan nilai tukar rupiah. Tak hanya itu, BI memperluas instrumen operasi moneter valas dengan spot dan swap dalam valuta Offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah.
Bagi investor Indonesia, kombinasi kebijakan BI dan meredanya tekanan eksternal memberikan optimisme bahwa penguatan sektor perbankan dapat berlanjut. Namun, Elandry Pratama mengingatkan bahwa faktor eksternal seperti arah suku bunga global, pergerakan rupiah, dan keberlanjutan aliran modal asing tetap perlu dicermati. Pertanyaan besarnya: akankah momentum ini bertahan, atau hanya sekadar reli sesaat?



