Trump Media Jual Akses Cepat ke Cuitan Presiden: Peluang atau Kontroversi?
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan milik Donald Trump, Trump Media, akan menjual akses real-time ke unggahan Truth Social melalui layanan API berbayar mulai 1 Agustus.
- Langkah ini memungkinkan trader dan media keuangan memonitor pernyataan presiden secara instan, namun memicu perdebatan etika soal komersialisasi jabatan publik.
- Di Indonesia, kebijakan serupa bisa memengaruhi pasar keuangan yang sensitif terhadap pernyataan pejabat, meskipun regulasi siber dan transparansi masih terbatas.

Trump Media and Technology Group (TMTG) mengumumkan rencana untuk menjual akses lebih cepat ke unggahan Presiden AS Donald Trump di platform Truth Social, sebuah langkah yang langsung memicu perdebatan tentang batas antara keterbukaan informasi dan komersialisasi kekuasaan.
Melalui layanan bernama Truth API, perusahaan akan menyediakan akses real-time berlisensi ke unggahan dari akun-akun dengan peringkat tertinggi di Truth Social, termasuk akun Trump sendiri. Layanan ini dijadwalkan mulai beroperasi pada 1 Agustus mendatang. Kevin McGurn, CEO sementara TMTG, menyatakan bahwa pasar sudah bergerak berdasarkan unggahan di Truth Social, dan API ini akan membantu perusahaan yang selama ini mengandalkan pemantauan manual untuk menutup kesenjangan kecepatan.
Truth Social sendiri didirikan Trump setelah dilarang menggunakan Twitter (kini X) pasca-serangan Capitol Hill pada 2021. Kini, platform itu menjadi saluran utama Trump untuk mengumumkan kebijakan strategis, mulai dari isu ekonomi hingga kebijakan luar negeri seperti perang Iran. Dengan API ini, trader dan organisasi berita keuangan dapat mengintegrasikan unggahan Trump ke dalam sistem otomatis mereka, memungkinkan reaksi dalam hitungan detik terhadap pernyataan yang dapat menggerakkan pasar.
Langkah ini menimbulkan pertanyaan etis baru tentang bagaimana seorang presiden dapat memonetisasi pernyataan resminya. Meskipun Trump bukan lagi pejabat aktif saat ini, pengaruhnya terhadap pasar dan opini publik tetap besar. Para kritikus menilai bahwa menjual akses prioritas ke pernyataan presiden dapat menciptakan ketidaksetaraan informasi, di mana pihak yang mampu membayar mendapat keuntungan lebih cepat dibanding publik umum.
Di Indonesia, fenomena serupa belum terjadi, namun potensi dampaknya patut dicermati. Pasar saham Indonesia kerap bereaksi terhadap pernyataan pejabat negara, terutama yang berkaitan dengan kebijakan ekonomi atau investasi. Jika model bisnis seperti ini diadopsi di dalam negeri, regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu mempertimbangkan aturan tentang akses informasi pasar yang adil. Saat ini, Indonesia belum memiliki regulasi spesifik yang melarang komersialisasi akses ke pernyataan pejabat publik, meskipun prinsip keterbukaan informasi diatur dalam UU Keterbukaan Informasi Publik.
Para analis memperkirakan bahwa Truth API akan menjadi produk yang menguntungkan, terutama jika Trump kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2024. Namun, kekhawatiran tentang potensi penyalahgunaan informasi tetap mengemuka. Akankah langkah ini mendorong transparansi yang lebih besar, atau justru memperlebar kesenjangan akses informasi antara pelaku pasar besar dan publik?



